Muhasabah di Balik Musibah

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr: 18)

Hari berganti hari, masa berganti masa, detik berganti detik. Hidup adalah sebuah ketidakpastian, namun perpindahan adalah suatu hal yang pasti. Cobaan datang mendera bertubi tubi, entah itu nikmat atau musibah. Semua adalah sepaket ujian yang telah Allah siapkan untuk kita sebagai fitrah kita manusia. Bila dianalogikan layaknya sebuah baja. Agar menjadi baja yang bagus, menarik dan bernilai pun harus ditempa dan dipanaskan berkali kali agar menjadi besi yang amat berharga dan bernilai jual.

Begitu pula kita, manusia, perlu diuji berkali kali agar mental menjadi lebih  kuat dan derajat kita semakin meningkat di sisi Allah SWT. Mukmin yang kuat, tak akan terpental hanya karena pukulan badai hidup yang menghadapinya. Ia akan segera bangkit dari keterpurukannya dan belajar untuk memperbaiki dan belajar dari kesalahan yang dialaminya. Kasih sayang yang Allah berikan tidak semata-mata berwujud dalam kesenangan, kelimpahan harta dan tercapai semua keinginan serta jauh dari musibah. Bahkan bisa sebaliknya.

“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.” (terjemah hadis riwayat Muslim)

Setiap musibah sudah digariskan dan ditentukan oleh sang Pencipta yaitu Allah SWT. Manusia tidak akan pernah tahu kapan ajal akan menjemput karena itu merupakan sebuah ketetapan dari Allah yang tiada mengetahui kecuali Allah semata. Adakala sebuah musibah itu adalah ujian dari Allah dan bisa jadi musibah itu merupakan teguran dari Allah. Maka dari pada itu Jadikanlah musibah bagian dari muhasabah diri untuk penguatan menjadikan pribadi kita yang lebih baik lagi dan jalan untuk bertawakal Kepada Allah SWT.

“….Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu,dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,padahal ia amat buruk bagimu,Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah:216) (daaruttauhiid)