Nabi Yusuf: Menyambut Kekuasaan dengan Bekal Pengetahuan dan Kepercayaan

(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.” (QS. Yusuf [12]: 46) 

Al-Aziz telah memenjarakan Yusuf. Fenomena perbudakan hawa nafsu telah ada di ambang mata. Atas kelapangan jiwa Yusuf (yang memintanya dipenjara), semuanya bisa terkendali. Bersamaan dengannya, dimasukkan dua orang pemuda yang sebentar lagi mendapatkan vonis.

Di malam harinya, kedua orang itu bermimpi. Orang pertama memimpikan begitu asyiknya memeras anggur. Sedangkan orang kedua bermimpi membawa roti di atas kepala, namun sebagian rotinya dimakan burung. Keduanya merasa penasaran dengan mimpi tersebut. Mereka pun menyampaikan mimpi ini kepada Yusuf.

Atas izin Allah, Yusuf mengerti. Ia menyampaikan orang pertama akan mendapatkan vonis bebas dan mendapat kedudukan sebagai pelayan istana. Sedangkan orang kedua mendapat vonis hukuman salib dengan kondisi sebagian kepalanya dimakan burung, dan vonis pun berlaku demikian.

Sebelum bebas, Yusuf berpesan kepada orang pertama itu agar ia menyampaikan informasi tentangnya kepada sang majikan. Namun sayang, setelah bebas, syaitan menjadikannya lupa sehingga Yusuf masih mendekap di penjara sampai beberapa tahun lamanya.

Suatu hari Raja Mesir bermimpi. Mimpi yang membuatnya resah dan berharap mengerti artinya. Dalam mimpi tersebut ia mendapati tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan tujuh ekor sapi betina kurus, dan tujuh bulir gandum hijau serta tujuh bulir lainnya ikut mengering. Sang raja menyampaikan kepada pembesarnya, berharap mendapat penjelasan.

Para pembesar sama sekali tidak mengerti. Mereka menyampaikan mimpi hanyalah bunga tidur yang tidak memiliki arti sama sekali, sehingga tidak usah banyak dipikirkan. Namun, sang Raja tidak berkenan. Ia lalu menyampaikan undangan dan hadiah bagi siapa pun yang mampu menta’wilkan mimpinya.

Sang pelayan teringat sosok Yusuf yang menta’wilkan mimpinya. Ia segera menemui Yusuf dan menyampaikan mimpi Sang Raja. Yusuf mengerti. Ia menyampaikan bahwa negeri Mesir akan mengalami tujuh tahun yang sulit. Ia lalu berpesan agar di masa itu, Raja terus saja menanam selama tujuh tahun dan jangan memakannya kecuali sedikit (untuk disimpan menghadapi tujuh tahun yang sulit itu).

Dirasa cukup, pelayan itu pun menyampaikan ta’wil mimpi ini. Raja sangat terpukau dengan penjelasannya. Ia meminta pengawal untuk menjemput Yusuf. Namun, ia menolaknya dengan alasan kenyamanan. Ia meminta Raja untuk membuka kasus yang menyebabkannya masuk penjara.

Raja menyanggupi. Ia mengumpulkan para perempuan kota termasuk Siti Zulaikha. Lalu, ia menanyakan perihal kejadian yang menyebabkan jari mereka teriris. Para perempuan tersebut menyampaikan berita yang sebenarnya. Bagi mereka, Yusuf begitu sempurna sehingga menyebabkan mereka tidak bisa mengendalikan diri. Ada pun Yusuf, ia sangat menjaga diri dan tidak menunjukkan keburukan sama sekali. Pernyataan ini diperkuat oleh pernyataan Siti Zulaikha yang mengaku bersalah pada peristiwa itu.

Permintaan Yusuf bukan tanpa maksud. Ia berkehendak membuka mata hati Raja agar melihat dengan bijak atas profil dan track record Yusuf sebagai al-Amin (yang bisa dipercaya). Penjara bukanlah tempat Yusuf merasakan hasil kejahatannya, melainkan tempat berlindung (mengamankan diri) dari perilaku buruk manusia (para perempuan kota) yang menuruti hawa nafsunya.

Gayung bersambut. Selain bangga dengan kelapangan jiwa Yusuf, Raja semakin terkesima dengan cara pandang Yusuf dalam menyikapi dan memberi solusi atas masalah yang ada. Raja selanjutnya penuh harap padanya, dan meminta Yusuf menjadi penasihat yang mendampinginya menghadapi tujuh tahun sulit tersebut.

Demikianlah, Nabi Yusuf mendapatkan jabatan dan kepercayaan tertinggi. Mulai saat itu, Yusuf menorehkan karya besar yang membawanya menyongsong kekuasaan yang dijanjikan. Wallahu a’lam. (Ust. Edu)

sumber foto: artstation.com