Rumah DCC DT Peduli, Rumah Kedua Bagi Difabel

Program Pemberdayaan Ekonomi dengan melibatkan teman-teman difabel, menjadi salah satu bentuk kepedulian Daarut Tauhiid (DT) Peduli dalam mengemban amanah sebagai salah satu amil zakat terbesar di Jawa Barat. Salah satu programnya adalah Rumah Produksi Difabel Creative Center (DCC).

Edwar Suhendar, Kabag. Program DT Peduli Bandung mengatakan, Rumah produksi DCC menjadi rumah kedua bagi teman-teman difabel untuk mengasah bakat dan kemampuan agar mampu berdaya saing.

Selain menjadi mitra dalam menjalankan program, teman-teman difabel juga menjadi simbol yang mematahkan stigma bahwa masyarakat difabel sulit diberdayakan. Program DCC disebut menjadi salah satu poros terbaik pemberdayaan umat.

“Selama ini stigma yang menempel di masyarakat adalah teman-teman difabel selalu tidak berguna dan sulit diberdayakan, tapi dengan adanya program pemberdayaan ekonomi DT Peduli, kami mencoba mendorong bahwa dengan keterbatasan bukan menjadi halangan untuk tetap produktif dan berkarya,” katanya, Selasa (14/1).

Sejatinya, kata Edu, teman-teman difabel haruslah diberikan fasilitas lebih oleh negara, meliputi fasilitas kesehatan, pendidikan, dan umum. Tak hanya itu, Edu mengatakan, setiap warga difabel juga berhak memperoleh perlakuan khusus dan memiliki hak yang sama dalam konsep bernegara dan berkeadilan.

“Di hadapan Allah Swt semua manusia sama. Kita tidak boleh memandang mereka sebelah mata walau hanya sedikit, sebab di balik ketidaksempurnaan fisik atau psikis mereka, pasti terdapat kelebihan yang tak dimiliki semua orang. Atas dasar tersebut, program DCC hadir untuk memenuhi hak-hak teman-teman difabel. DT Peduli mencoba untuk mengambil bagian dalam kepedulian sesama, juga memupuk semangat mereka untuk tidak menyerah pada keadaan,” ujarnya.

Edu menyebut, program DCC memiliki tujuan membentuk dan mengasah keterampilan, sehingga dapat mandiri secara ekonomi. Di sana, kata Edu, mereka mendapat pelatihan keterampilan menjahit, pelatihan sablon, produksi pakaian, hingga pemasaran hasil produksi.

“Harapannya, teman-teman difabel dibina untuk bisa mandiri secara ekonomi. Sejauh ini, ada empat orang yang sudah mencapai kategori pro dalam menjahit busana, menyablon busana, bahkan mereka juga dapat membuat pola busana sendiri,” jelasnya.(Elga)