Aa Gym: Keikhlasan dalam Meminta Maaf, Mengikis Ego Menuju Meraih Kemuliaan

DAARUTTAUHIID.ORG | Banyak orang merasa berat untuk meminta maaf karena khawatir dianggap lemah, takut martabatnya turun, atau takut penolakannya. Padahal, soal dimaafkan atau tidak merupakan urusan lain; yang terpenting adalah usaha kita untuk menyampaikan permohonan maaf.

Hakikatnya, kita meminta maaf bukan demi mendapatkan pujian manusia, tetapi agar Allah meridhai kita. Meminta maaf kepada sesama dan bertaubat kepada Allah adalah bagian dari upaya menyelesaikan urusan di dunia, sehingga tidak terbawa hingga akhirat. Allah pun menjadi saksi bahwa kita telah berusaha menebus kesalahan terhadap orang yang pernah kita zalimi.

Jika permintaan maaf kita tidak diterima, kita tidak perlu gelisah. Memaafkan atau tidak berada di luar kendali kita. Yang bisa kita lakukan adalah ikhlas, berlapang dada, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

“Jadilah engkau pemaaf, perintahkanlah yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa:
“Sedekah tidak mengurangi harta, seseorang yang memaafkan saudaranya akan ditinggikan derajatnya, dan siapa yang merendahkan diri karena Allah niscaya Allah meninggikan derajatnya.”

Sikap enggan meminta maaf biasanya berasal dari kesombongan. Orang yang sombong sulit mengakui kesalahan serta enggan berterima kasih, karena kedua hal tersebut menuntut kerendahan hati dan keikhlasan.

Meminta maaf justru membawa ketenangan. Kesalahan yang belum diselesaikan biasanya membuat hati gelisah. Karena itu, mintalah maaf dengan niat tulus mengharap ridha Allah, bukan mengharapkan perlakuan baik dari manusia—sebab berharap kepada manusia sering kali berujung pada kekecewaan. (KH. Abdullah Gymnastiar)