Dekapan Al-Qur’an dan Mimpi Sang “Komandan” Cilik dari Meunasa Mancang
DAARUTTAUHIID.ORG | PIDIE JAYA — Di sela reruntuhan sisa bencana yang belum sepenuhnya hilang di Kabupaten Pidie Jaya, sebuah pemandangan hangat tersaji pada Ahad (4/1/2026) siang.
Hafis Ramadhan, bocah kelas 3 SD yang duduk di bangku MIN 4 Pidie Jaya, tampak tak berhenti menyunggingkan senyum. Di pelukannya, sebuah mushaf Al-Qur’an baru dari Wakaf DT ia dekap erat-erat.
Bagi Hafis dan kawan-kawannya di Desa Meunasa Mancang, Kecamatan Meurah Dua, kehadiran Al-Qur’an tersebut bukan sekadar tumpukan kertas.
Di tengah keterbatasan hidup di pengungsian pascabencana, kitab suci ini adalah simbol harapan sekaligus pemantik api semangat untuk kembali meramaikan pengajian.
“Siap, Komandan!”
Momen pembagian bantuan tersebut berubah menjadi haru sekaligus mengagumkan saat Hafis berbincang dengan para relawan. Di balik tubuh kecilnya, tersimpan cita-cita yang gagah. Tanpa ragu, ia mengungkapkan impiannya untuk menjaga negeri.

“Cita-cita saya ingin menjadi tentara,” ucap Hafis dengan nada bicara yang tegas dan penuh keyakinan.
Seolah ingin membuktikan keseriusannya, Hafis tiba-tiba berdiri tegak. Dengan tangan kanan, ia memberikan posisi hormat yang sempurna—sebuah gerak sigap layaknya prajurit profesional. Sementara itu, tangan kirinya tetap setia mendekap Al-Qur’an di dada.
“Siap, Komandan!” serunya lantang, memecah suasana sunyi di lokasi pengungsian dan membuat para relawan yang hadir berdecak kagum.
Membangun Mental di Tengah Keterbatasan
Melihat kobaran semangat tersebut, para relawan tak melewatkan kesempatan untuk menitipkan pesan bermakna. Mereka mengingatkan Hafis bahwa menjadi seorang prajurit tak hanya butuh fisik yang kuat, tapi juga landasan spiritual yang kokoh.
“Masya Allah, semoga cita-citanya terwujud ya, Hafis. Kuncinya harus rajin sekolah, jangan tinggal salat, dan yang paling penting, selalu berbakti kepada orang tua,” pesan salah satu relawan dengan lembut.
Program penyaluran Al-Qur’an ini merupakan bagian dari misi pemulihan psikososial yang dijalankan Wakaf DT bersama DT Peduli. Fokusnya bukan hanya pada bantuan fisik, melainkan menjaga kesehatan mental dan optimisme anak-anak di wilayah terdampak bencana.
Melalui lembaran-lembaran mushaf baru ini, diharapkan anak-anak Pidie Jaya seperti Hafis tetap memiliki pegangan teguh. Meski badai bencana sempat mengguncang tanah kelahiran mereka, mimpi-mimpi besar—seperti menjadi tentara yang religius—harus tetap tegak berdiri. (WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan
