Malik bin Dinar: Kedermawanan Ditengah Kesulitan
DAARUTTAUHIID.ORG — Bagi kebanyakan orang, rasa lapar dan keinginan yang kuat adalah sinyal untuk segera dipuaskan. Namun, bagi Malik bin Dinar, seorang sufi besar sekaligus murid dari Hasan al-Bashri, rasa lapar justru menjadi panggung tempat ia memenangkan pertempuran melawan egonya sendiri.
Puasa Panjang Sang Ahli Kaligrafi
Dalam catatan kitab Tadzkiratul Auliya karya penyair besar Fariduddin Attar, dikisahkan bahwa selama bertahun-tahun lidah Malik bin Dinar tidak pernah mengecap rasa manis maupun asam.
Kesehariannya sangat sederhana: ia hanya berbuka puasa dengan dua potong roti kering yang dibelinya setiap malam. Baginya, kehangatan roti yang baru matang sudah merupakan kemewahan luar biasa yang menghibur hati.
Namun, suatu ketika ujian fisik menerpanya. Di tengah kondisi tubuh yang melemah karena sakit, Malik merasakan keinginan yang amat sangat untuk menyantap daging.
Selama sepuluh hari ia mencoba menekan keinginan itu, hingga akhirnya ia tak kuasa lagi menahan gejolak nafsu makannya.
Sepotong Kaki Domba dan Air Mata
Malik kemudian pergi ke pasar dan membeli beberapa potong kaki domba. Karena sifatnya yang sangat menjaga privasi ibadahnya, ia menyembunyikan makanan tersebut di balik lengan bajunya. Pemilik toko yang merasa penasaran lantas mengutus seorang pelayan untuk membuntuti sang ulama.
Pelayan itu kembali dengan wajah sembab dan mata penuh air mata. Ia menceritakan sebuah pemandangan yang menggetarkan jiwa:
Di sebuah tempat tersembunyi, Malik mengeluarkan potongan daging itu. Bukan untuk dimakan, ia hanya mencium aromanya sambil berbisik pada dirinya sendiri, “Wahai diri, lebih dari ini bukanlah hakmu.”
Tanpa ragu, ia menyerahkan daging dan rotinya kepada seorang pengemis yang ia temui. Kepada tubuhnya yang renta, Malik berkata dengan penuh kasih namun tegas, bahwa penahanan diri ini bukan karena ia benci pada fisiknya, melainkan demi menyelamatkan sang jasad dari api neraka kelak, demi sebuah kebahagiaan yang abadi di akhirat.
Kecerdasan di Balik Kesahajaan
Banyak orang beranggapan bahwa tidak mengonsumsi daging dalam waktu lama dapat menurunkan ketajaman berpikir. Namun, Malik bin Dinar mematahkan anggapan tersebut.
Beliau pernah berujar bahwa meski ia tidak menyentuh daging selama dua puluh tahun, kecerdasan akalnya justru terus terasah dan meningkat.
Hal ini terbukti dari rekam jejaknya. Putera dari seorang budak asal Persia ini tidak hanya dikenal sebagai ahli ibadah, tetapi juga sebagai:
Perawi Hadis Terpercaya: Beliau merawikan hadis-hadis sahih dari para sahabat besar seperti Anas bin Malik dan tokoh tabiin Ibnu Sirin.
Ahli Kaligrafi Al-Qur’an: Tangannya yang terampil menyalin kalam Ilahi dengan estetika yang luar biasa.
Malik bin Dinar wafat sekitar tahun 748 M (130 H), meninggalkan warisan berupa keteladanan tentang bagaimana seharusnya seorang hamba memosisikan nafsu di bawah kendali iman.
Redaktur: Wahid Ikhwan
Sumber: Republika
