Integritas di Atas Emas: Kisah Ulama yang Mambuang Emas dari Khalifah
DAARUTTAUHIID.ORG — Sejarah Islam mencatat sosok ulama besar yang keteguhan imannya tak tergoyahkan oleh kemilau dunia. Beliau adalah Fuzail bin Iyaz, seorang ahli zuhud yang memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana menjaga kesucian nasihat agar tidak terkooptasi oleh kepentingan penguasa.
Nasihat yang Menggetarkan Singgasana
Kisah ini bermula saat Khalifah Harun ar-Rasyid mengunjungi Fuzail untuk meminta wejangan. Nasihat-nasihat tajam dari sang ulama begitu meresap hingga membuat sang penguasa menangis hebat dan hampir kehilangan kesadaran.
Dalam momen penuh haru itu, Harun ar-Rasyid bermaksud menunjukkan rasa hormatnya dengan membantu beban finansial sang ulama.
“Apakah engkau memiliki utang yang perlu dibayar?” tanya Sang Khalifah.
Dengan tenang, Fuzail menjawab bahwa utang terbesarnya adalah ketaatan kepada Allah SWT. Ia merasa ngeri membayangkan jika Allah menagih pertanggungjawaban atas pengabdiannya yang masih jauh dari sempurna.
Namun, Harun memperjelas maksudnya bahwa yang ia tanyakan adalah utang kepada sesama manusia. Fuzail kembali menepis secara halus, menyatakan bahwa ia cukup dengan pemberian Allah dan tak punya alasan untuk mengeluh kepada hamba-Nya.
Satu Kantong Dinar yang Dibuang
Melihat kesahajaan tersebut, Khalifah meletakkan sebuah kantong berisi 1.000 dinar emas di depan Fuzail. Ia meyakinkan bahwa uang itu berasal dari harta halal warisan ibunya. Tak disangka, pemberian itu justru memicu teguran keras dari Fuzail.
Fuzail menganggap tindakan Harun sebagai bentuk kegagalan dalam memahami nasihatnya. Ia merasa Sang Khalifah justru sedang menariknya ke dalam jerat fitnah dunia yang baru saja ia peringatkan.
“Aku sedang menuntunmu ke gerbang keselamatan, namun engkau malah melemparku ke dalam lubang cobaan,” tegas Fuzail.
Ulama tersebut meminta Khalifah untuk mengembalikan harta tersebut kepada rakyat yang berhak, bukannya malah memberikannya kepada dirinya yang merasa tidak pantas menerimanya.
Tanpa ragu, Fuzail berdiri dan membuang kantong emas tersebut ke luar, menunjukkan betapa rendahnya nilai harta di mata seorang pencinta akhirat.
Kekaguman Sang Penguasa
Alih-alih murka, Harun ar-Rasyid justru terpaku melihat ketegasan tersebut. Ia berujar bahwa Fuzail adalah “raja” yang sebenarnya bagi umat manusia—seorang manusia merdeka yang menganggap dunia ini terlampau kecil untuk menggoyahkan prinsipnya.
Mengenal Sosok Fuzail bin Iyaz
Lahir di Khurasan dengan nama lengkap Abu Ali al-Fuzail bin Iyaz al-Talaqani, ia memiliki latar belakang yang unik. Masa mudanya dihabiskan sebagai seorang penyamun jalanan sebelum akhirnya mendapatkan hidayah dan bertaubat nasuha.
Setelah bertaubat, ia mendedikasikan hidupnya untuk menuntut ilmu di Kufah dan Makkah hingga diakui sebagai ahli hadis yang disegani. Ia wafat pada tahun 187 H (803 M) dengan meninggalkan warisan keteladanan tentang keberanian menyuarakan kebenaran di hadapan kekuasaan.
Redaktur: Wahid Ikhwan
