Menembus Batas Logika: Memaknai Esensi Isra’ Mi’raj bagi Jiwa yang Lelah

DAARUTTAUHIID.ORG Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan kilat melintasi ruang geografis dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus dimensi langit menuju Sidratul Muntaha.

Lebih dari itu, mukjizat ini adalah pesan cinta dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang sedang mengalami titik terendah dalam hidup.

Hadiah di Tengah Puncak Kesedihan
Secara historis, Isra’ Mi’raj terjadi pada ‘Amul Huzni atau “Tahun Kesedihan”. Rasulullah SAW baru saja kehilangan dua pilar pendukung utamanya: Siti Khadijah, istri tercinta yang menjadi penenang jiwanya, dan Abu Thalib, paman yang menjadi benteng perlindungannya.

Di tengah tekanan kaum Quraisy yang semakin beringas, Allah “menjemput” Rasul-Nya untuk diperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Hal ini mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga: Ketika pintu-pintu di bumi seolah tertutup bagi kita, pintu langit selalu terbuka lebar.

Shalat: “Mi’raj” Bagi Setiap Muslim

Buah tangan paling berharga dari perjalanan ini adalah perintah shalat lima waktu.
Jika Rasulullah SAW harus menembus langit ketujuh untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta, kita sebagai umatnya diberikan kemudahan untuk melakukan “Mi’raj spiritual” setiap hari melalui shalat.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ash-shalatu mi’rajul mu’minin (shalat adalah mi’rajnya orang-orang beriman).
Saat bersujud, kita sebenarnya sedang melepaskan segala beban duniawi dan mengadukan segala sesak di dada langsung kepada pemilik alam semesta.

Relevansi Isra’ Mi’raj di Era Modern
Di zaman yang serba logis dan materialistik ini, Isra’ Mi’raj menantang kita untuk mengasah kembali kecerdasan spiritual. Peristiwa ini mengajarkan kita bahwa:

Keterbatasan Akal: Ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau hanya dengan rumus fisika atau logika manusia. Iman dimulai di titik di mana logika berhenti.

Kecepatan dan Ketepatan: Perjalanan semalam tersebut membuktikan bahwa bagi Allah, waktu dan jarak adalah hal yang relatif. Jika Allah berkehendak mengangkat derajat seseorang, hal itu bisa terjadi dalam sekejap mata.

Pentingnya Integritas: Sepulangnya dari Mi’raj, Rasulullah SAW tetap menyampaikan kebenaran meski tahu akan dicemooh. Ini adalah teladan tentang konsistensi dalam memegang prinsip.

Isra’ Mi’raj adalah momentum untuk melakukan “re-instalasi” iman. Ia mengingatkan kita bahwa sesulit apa pun ujian hidup, kita memiliki Tuhan yang Maha Besar.

Shalat yang kita dirikan bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana untuk selalu terhubung dengan sumber kekuatan yang tak terbatas.

Mari jadikan peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan titik balik untuk memperbaiki kualitas komunikasi kita dengan Allah melalui shalat lima waktu. (WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan