Mimpi Sulaiman & Hafidz Tak Surut Oleh Banjir
DAARUTTAUHIID.ORG | ACEH TAMIANG — (23/1/2026) – Di balik sisa-sisa lumpur yang mulai mengering di Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang, tersimpan mimpi-mimpi besar yang menolak tenggelam.
Meski banjir bandang sempat menyapu ketenangan desa, semangat dua bocah setempat, Sulaiman dan Muhammad Hafidz, justru semakin berkobar.
Bagi Sulaiman, langit Aceh Tamiang bukan sekadar cakrawala biru. Itu adalah masa depannya. Bocah laki-laki ini bercita-cita menjadi seorang pilot. Ia ingin menerbangkan pesawat besar, melintasi awan, dan melihat desanya dari ketinggian yang tak terjangkau oleh air bah.
Di sisi lain, Muhammad Hafidz punya cara berbeda untuk menaklukkan dunia. Dengan kaki mungilnya, ia bermimpi menjadi pemain sepak bola profesional.
Baginya, setiap jengkal tanah di Desa Sekumur adalah lapangan latihan, tempat ia mengasah ketangkasan demi mencetak gol di stadion impian suatu hari nanti.
Ketika “Rumah Kedua” Luluh Lantak
Keseharian Sulaiman dan Hafidz biasanya diisi dengan lantunan ayat suci. Sore hari adalah waktu favorit mereka untuk mengaji di madrasah dekat rumah. Namun, banjir bandang yang menerjang beberapa waktu lalu mengubah segalanya dalam sekejap.
“Masjid kami rusak, Kak. Al-Quran yang biasa kami pakai juga sudah hancur kena air dan lumpur,” kenang mereka dengan nada lirih.
Bencana itu tidak hanya merusak bangunan fisik, tetapi juga merampas sarana mereka untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta.
Madrasah yang biasanya riuh dengan suara anak-anak mengaji, sempat berubah sunyi, menyisakan tumpukan mushaf yang tak lagi bisa terbaca karena terkoyak arus.
Secercah Harapan dari Wakaf DT
Namun, mendung tak selamanya menetap. Senyum kembali merekah di wajah Sulaiman dan Hafidz saat bantuan Mushaf Al-Quran baru dari Wakaf DT tiba di tangan mereka.
Bagi mereka, ini bukan sekadar buku, melainkan simbol bahwa harapan mereka untuk terus belajar dan mengaji tidak boleh berhenti.
“Senang sekali punya Quran baru. Sekarang bisa mengaji lagi dengan tenang,” ujar mereka sambil memeluk erat mushaf tersebut.
Di tengah keterbatasan pascabencana, Sulaiman dan Hafidz membuktikan bahwa impian menjadi pilot maupun pemain bola tetap tegak berdiri, selama iman tetap tertanam di hati. (WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan
