Perjuangan Panjang Tim Relawan Mengantar Amanah Sampai di Tapanuli

DAARUTTAUHIID.ORG | TAPANULI — Perjalanan mendaki dan berkelok menuju Tapanuli bukan sekadar tentang menempuh jarak, melainkan tentang ketangguhan niat. Bagi tim Wakaf, DT Peduli dan para relawan, setiap tikungan tajam adalah ujian, dan setiap tebing yang rawan longsor adalah pengingat akan pentingnya amanah yang mereka bawa.

Berikut adalah catatan perjalanan inspiratif mereka menembus jalur lintas Sumatera demi mengantarkan cahaya Al-Quran yang dilakukan oleh tim pada (23-25/1/2026).

16 Jam yang Menguji Nyali

Meninggalkan hiruk-pikuk Kota Medan, iring-iringan kendaraan pembawa bantuan logistik dan mushaf Al-Quran mulai membelah malam. Tujuan mereka adalah pelosok Tapanuli, sebuah perjalanan yang normalnya melelahkan, namun kali ini terasa lebih berat karena beban tanggung jawab dan kondisi medan yang ekstrem.

Waktu tempuh 16 jam bukanlah durasi yang singkat. Di balik kemudi, para relawan harus bertarung dengan:

  • Jalur Berkelok: Tikungan “patah” yang menuntut konsentrasi penuh agar kendaraan tetap stabil.
  • Ancaman Longsor: Melintasi zona merah di mana tebing-tebing curam sering kali luruh saat hujan turun, mengancam menutup akses jalan satu-satunya.
  • Kabut dan Kegelapan: Jarak pandang yang terbatas di area pegunungan menambah risiko perjalanan di tengah malam.

Bukan Sekadar Logistik Biasa

Di dalam truk yang berguncang hebat mengikuti kontur jalan, tersusun rapi ratusan Mushaf Al-Quran dan paket logistik. Bagi masyarakat di pedalaman Tapanuli, bantuan ini adalah napas baru. Setelah berbagai cobaan yang menimpa, kehadiran kitab suci yang baru merupakan harapan untuk kembali tegak secara spiritual.

“Lelah itu pasti, tapi membayangkan wajah anak-anak di Tapanuli saat memeluk Al-Quran baru, rasa kantuk dan pegal di punggung seperti hilang seketika,” ujar salah satu relawan di sela-sela istirahat singkatnya.

Menembus Batas Demi Amanah

Perjuangan ini adalah bukti nyata kolaborasi kemanusiaan. Tim Wakaf DT tidak bergerak sendiri; dukungan relawan lokal yang memahami seluk-beluk jalur Tapanuli menjadi kunci keberhasilan misi ini. Mereka berhenti hanya untuk salat dan memastikan mesin kendaraan tetap prima sebelum kembali menerjang tanjakan curam.

Kegigihan mereka mencerminkan satu hal: Kebaikan tidak boleh terhenti oleh rintangan geografis. Meski raga mereka dihantam letih, semangat untuk menyampaikan amanah dari para muwakif dan donatur menjadi bahan bakar utama yang tak kunjung padam.

Saat fajar mulai menyingsing dan siluet pegunungan Tapanuli terlihat, lelah 16 jam itu terbayar lunas. Kedatangan tim disambut hangat, sebuah akhir manis dari perjalanan panjang yang penuh risiko. Kini, Al-Quran tersebut siap dibaca, dipelajari, dan menjadi pelita bagi warga desa. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan