Amalan Sunnah di Hari Raya Idul Adha

DAARUTTAUHIID.ORG | BANDUNG — Hari Raya Idul Adha atau yang sering disebut sebagai Hari Raya Kurban merupakan salah satu momen paling agung bagi umat Muslim di seluruh dunia.

Selain menjadi simbol ketakwaan melalui ibadah penyembelihan hewan kurban, hari raya ini juga dipenuhi dengan berbagai amalan sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

Melakukan amalan-amalan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan kesempatan emas untuk menyempurnakan ibadah dan meraih pahala berlipat ganda. Berikut adalah beberapa amalan sunnah di hari Idul Adha yang bisa kita amalkan:

1. Menghidupkan Malam

Disunnahkan untuk mengumandangkan takbir sejak fajar pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga akhir hari Tasyrik (13 Dzulhijjah) menjelang ashar. Khusus pada malam Idul Adha, takbir dikumandangkan sebagai tanda kemenangan dan rasa syukur.

“…Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

2. Mandi Sebelum Berangkat Shalat Id

Sebelum menuju ke tempat shalat Id, disunnahkan untuk membersihkan diri dengan mandi besar. Hal ini bertujuan agar kita berada dalam kondisi paling bersih dan segar saat berkumpul dengan sesama Muslim.

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, seseorang pernah bertanya kepadanya mengenai mandi. Ali menjawab: “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Orang itu berkata: “Bukan itu, tetapi mandi yang merupakan mandi (dianjurkan).” Ali menjawab: “Mandi pada hari Jum’at, hari ‘Arafah, hari Idul Fitri, dan hari Idul Adha.” (HR. Syafi’i)

3. Memakai Pakaian Terbaik dan Wewangian

Bagi kaum laki-laki, disunnahkan memakai pakaian terbaik yang dimiliki (tidak harus baru, yang penting bersih dan rapi) serta memakai wangi-wangian.

Sedangkan bagi wanita, tetap dianjurkan berpakaian rapi namun tidak berlebihan atau memakai wewangian yang mencolok saat keluar rumah.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Nabi ﷺ memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk dua hari raya dan hari Jum’at.” (HR. Ibnu Khuzaimah)

4. Tidak Makan Sebelum Shalat Idul Adha

Berbeda dengan Idul Fitri yang disunnahkan makan terlebih dahulu, pada Idul Adha kita disunnahkan untuk menunda makan sampai selesai melaksanakan shalat Id. Sunnahnya, makanan pertama yang disantap adalah daging dari hewan qurban kita sendiri jika memungkinkan.

Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata: “Rasulullah SAW tidak keluar pada hari Idul Fitri sampai beliau makan, dan beliau tidak makan pada hari Idul Adha sampai beliau shalat.” (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al-Albani)

5. Berjalan Kaki Menuju Tempat Shalat

Jika jaraknya memungkinkan dan tidak ada udzur (seperti sakit atau hujan deras), berjalan kaki menuju masjid atau lapangan tempat shalat Id lebih utama daripada berkendara.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Rasulullah ﷺ biasa keluar menuju shalat Id dengan berjalan kaki, dan pulang dengan berjalan kaki.” (HR. Ibnu Majah)

6. Mengambil Jalan yang Berbeda Saat Pergi dan Pulang

Ketika berangkat ke tempat shalat Id, ambillah suatu jalan, dan ketika pulang, lewatilah jalan yang lain. Hikmahnya antara lain agar dapat menyapa lebih banyak tetangga, menyebarkan salam, dan agar jalan-jalan tersebut menjadi saksi kebaikan kita di hari kiamat.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Nabi ﷺ jika berada di hari raya, beliau membedakan jalan (antara pergi dan pulang).” (HR. Bukhari)

Amalan-amalan sunnah di atas sangat mudah untuk dipraktikkan, namun memiliki timbangan pahala yang besar di sisi Allah SWT.

Dengan menghidupkan sunnah ini, perayaan Idul Adha kita tidak hanya sekadar menjadi momen makan-makan dan berkumpul keluarga, tetapi juga bernilai ibadah yang mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.

Selamat menyambut Hari Raya Idul Adha. Semoga Allah SWT menerima ibadah shalat dan qurban kita semua. Wallahu a’lam bishowab. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


DAARUTTAUHIID.ORG