Di Tengah Reruntuhan, Ratusan Mahasiswa Kedokteran Gaza Rayakan Wisuda sebagai Simbol Perjuangan

DAARUTTAUHIID.ORG | GAZA — Langit Gaza sore itu tampak kelabu. Di halaman Rumah Sakit Al-Shifa, bangunan yang sebagian dindingnya runtuh dan lantainya dipenuhi puing, berdiri barisan mahasiswa kedokteran mengenakan toga.

Awal Januari 2026, di tempat yang biasanya dipenuhi suara ambulan dan jeritan korban, terdengar tepuk tangan pelan. Sebanyak 230 mahasiswa dan mahasiswi kedokteran resmi diwisuda—bukan di aula kampus, melainkan di tengah sisa-sisa kehancuran perang.

Momen ini dibagikan oleh jurnalis Gaza melalui akun Instagram @m.saed.gaza. Kamera menangkap wajah-wajah muda yang menahan haru: senyum yang rapuh, mata yang berkaca-kaca, dan langkah kaki yang mantap meski tanah di bawahnya retak.

Tidak ada dekorasi mewah, tidak ada panggung tinggi. Hanya deretan kursi sederhana dan kain seadanya, namun suasananya penuh makna.

Para lulusan ini berasal dari berbagai perguruan tinggi di Jalur Gaza. Selama masa studi, mereka tidak hanya belajar teori medis, tetapi juga menjadi relawan di rumah sakit, merawat korban luka, dan menyaksikan kehilangan setiap hari.

Wisuda ini digelar sebagai bentuk penghormatan atas keteguhan mereka—bahwa di tengah perang dan keterbatasan, pendidikan tetap dijaga, dan pengabdian tetap berjalan.

Saat satu per satu naik ke panggung darurat, para mahasiswa mengibarkan bendera Palestina. Di balik toga yang dikenakan, ada kisah tentang malam-malam tanpa listrik, ruang kelas yang hancur, dan keluarga yang hidup dalam kecemasan.

Namun hari itu, semua luka sejenak disimpan. Yang terlihat hanyalah tekad untuk menjadi dokter—penjaga kehidupan di tanah yang terus diuji.

Acara wisuda di Al-Shifa ini bukan sekedar seremoni kelulusan. Ia menjadi simbol ketahanan dan kemanusiaan, sekaligus pengingat bahwa Gaza tidak hanya tentang kehancuran, tetapi juga tentang harapan yang terus diperjuangkan.

Dukungan kemanusiaan, termasuk melalui Cash for Humanity, sebuah program wakaf yang digagas oleh Wakaf DT menjadi bagian penting dalam perjuangan saudara di Palestina.

Program ini bisa menjadi upaya menjaga layanan kesehatan dan pendidikan tetap berjalan—agar mimpi para calon dokter ini tidak berhenti di tengah reruntuhan. (SSP)

Redaktur: Wahid Ikhwan


DAARUTTAUHIID.ORG