Menjemput Harapan di Atas Puing: Duka Sumatera dan Ikhtiar Wakaf Produktif

DAARUTTAUHIID.ORG | SUMATERA — (2/2/2026) — Di bawah langit kelabu Sumatera, awal Februari 2026 menjadi saksi bisu bagi ribuan warga yang masih bergelut dengan sisa-sisa lumpur. Banjir bandang yang menerjang sejak akhir tahun lalu memang mulai surut, namun luka yang ditinggalkan jauh dari kata sembuh.

Saat ini bukan lagi tentang pelarian dari arus deras, melainkan tentang perjuangan membangun kembali hidup dari nol. Data terbaru mencatatkan lebih dari 1.201 jiwa melayang dan ratusan ribu warga masih bertahan di Hunian Sementara (Huntara).

Di tengah hamparan rumah yang hancur, pemandangan paling memilukan adalah sunyinya rumah-rumah ibadah. Berdasarkan data BNPB per akhir Januari, setidaknya 803 rumah ibadah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat rusak berat.

Bagi masyarakat Sumatera yang religius, masjid bukan sekadar bangunan; ia adalah jantung komunitas. Saat masjid terkubur lumpur, denyut nadi kehidupan sosial dan spiritual mereka seolah ikut terhenti.

Bukan Sekadar Bantuan Sekali Habis

Melihat skala kerusakan yang masif, bantuan darurat berupa makanan dan pakaian saja tidaklah cukup untuk masa pemulihan jangka panjang. Di sinilah Lembaga Wakaf Daarut Tauhiid (DT) hadir dengan sebuah terobosan melalui program “Cash Wakaf for Humanity (Sumatera)”.

Berbeda dengan skema donasi bencana konvensional yang bersifat charity (sekali habis), program ini mengusung konsep Wakaf Produktif. Sebuah strategi cerdas di mana dana wakaf yang dihimpun dari para muwakif (donatur) tidak langsung dibelanjakan untuk semen atau batu bata.

“Kami ingin bantuan ini tidak hanya ada saat bencana menjadi headline berita, tapi terus mengalir hingga fasilitas ibadah itu berdiri tegak kembali secara mandiri,” ujar perwakilan Wakaf DT. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


DAARUTTAUHIID.ORG