Senyum di Balik Lumpur: Asa Rara dan Mushaf Baru di Desa Sekumur Aceh Tamiang Senyum di Balik Lumpur: Asa Rara dan Mushaf Baru di Desa Sekumur Aceh Tamiang

DAARUTTAUHIID.OR.ID | ACEH TAMIANG – Di antara sisa-sisa lumpur kering yang masih melapisi dinding rumah-rumah di Desa Sekumur, Aceh Tamiang, terdengar gelak tawa yang memecah keheningan. Kamis siang (22/1/2026), sekelompok anak kecil berlarian mendekati sebuah truk logistik dengan logo Wakaf DT.

Di barisan paling depan, seorang gadis kecil bernama Rara tampak tak sabar. Matanya berbinar saat tim relawan mulai membuka kardus-kardus berisi Mushaf Al-Qur’an yang masih terbungkus plastik rapi. Bagi Rara dan teman-temannya, itu bukan sekadar buku; itu adalah harta karun yang sempat hilang ditelan banjir bandang beberapa waktu lalu.

“Al-Qur’an Kami Sudah Jadi Lumpur”

Sambil mendekap erat mushaf barunya, Rara bercerita dengan nada polos namun menyayat hati. Ia mengenang sore mencekam saat air bah datang menerjang desa mereka.

“Masjid tempat kami mengaji terendam tinggi sekali. Mushaf yang biasa Rara pakai sudah hancur, lengket semua kena lumpur pekat. Sudah tidak bisa dibaca lagi,” kenangnya lirih.

TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang menjadi ruang ceria bagi mereka setiap sore kini masih dalam tahap pembersihan. Selama berminggu-minggu, aktivitas mengaji terhenti. Bukan karena mereka tak mau, tapi karena tak ada lagi lembaran wahyu yang bisa mereka pegang.

Merajut Mimpi di Tengah Duka

Namun, duka akibat bencana tak sanggup memadamkan api cita-cita di hati anak-anak Desa Sekumur. Saat ditanya tentang masa depannya, Rara menjawab dengan tegas.

“Rara ingin jadi Guru,” ucapnya sambil tersenyum lebar. “Supaya Rara bisa mengajar anak-anak di sini lagi. Biar mereka pintar dan bisa mengaji walau habis ada banjir.”

Tak mau kalah, teman-teman Rara yang berada di sampingnya pun ikut menyahut dengan semangat. “Kalau aku ingin jadi Dokter!” seru salah satu temannya. “Biar kalau ada yang sakit karena banjir, bisa aku obati. Aku mau bantu banyak orang kelak.”

Wakaf: Jembatan Harapan

Penyaluran yang berlangsung selama dua hari (21-22 Januari 2026) ini menjadi momen krusial bagi pemulihan psikologis anak-anak. Kehadiran Mushaf Al-Qur’an baru dari para pewakaf melalui Wakaf DT memberikan kepastian bahwa pendidikan agama mereka tidak akan mati meski diterjang badai.

Relawan yang bertugas pun merasa haru melihat respon anak-anak tersebut. “Melihat mereka langsung duduk berkelompok dan mencoba membuka halaman demi halaman mushaf baru itu adalah bayaran terbaik bagi perjalanan jauh kami menuju desa ini,” ujar salah satu tim distribusi.

Kini, di Desa Sekumur, harapan mulai kembali bersemi. Melalui selembar Mushaf Al-Qur’an, mimpi Rara untuk menjadi guru dan cita-cita teman-temannya menjadi dokter terasa selangkah lebih dekat. Banjir boleh saja menghanyutkan bangunan, namun ia tak pernah bisa menghanyutkan semangat dan iman yang tertanam di dada anak-anak Aceh Tamiang. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


DAARUTTAUHIID.OR.ID