WHO: Bantuan untuk Gaza Masih Jauh dari Cukup, Desak Rafah Dibuka Lagi

DAARUTTAUHIID.ORG | Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza hingga saat ini masih jauh dari kebutuhan sebenarnya. Badan tersebut tengah berupaya memulihkan sistem layanan kesehatan di wilayah tersebut yang hancur akibat perang berkepanjangan.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan bahwa meskipun pengiriman bantuan ke Gaza mengalami peningkatan, proses pemulihan infrastruktur medis diperkirakan memerlukan biaya sedikitnya USD 7 miliar.

Konflik antara Israel dan Hamas yang telah berlangsung dua tahun kini berada dalam masa gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Otoritas kesehatan Palestina melaporkan lebih dari 67.000 korban jiwa di Jalur Gaza, dengan hampir sepertiga di antaranya adalah anak-anak.

Tedros juga mendesak dibukanya kembali perlintasan Rafah di perbatasan Gaza–Mesir, yang sejak Mei 2024 ditutup setelah dikuasai Israel. Penutupan tersebut membuat ribuan ton bantuan tertahan dan hanya beberapa pasien yang dapat keluar dari Gaza setiap hari.

Meski kondisi pangan sedikit membaik selama gencatan senjata, WHO menilai lebih dari 600.000 warga Gaza masih menghadapi krisis pangan akut, sehingga dibutuhkan upaya kemanusiaan yang lebih besar.

Di sisi lain, WHO memperingatkan prospek pendanaan global yang suram untuk tahun mendatang. Kekurangan dana diperkirakan dapat menyebabkan lebih dari 14 juta kematian yang seharusnya bisa dicegah di seluruh dunia.

Situasi ini semakin memburuk setelah Amerika Serikat keluar dari WHO pada awal tahun dengan alasan ketidakpuasan terhadap penanganan pandemi Covid-19 dan sejumlah krisis kesehatan global.

Keluarnya AS, sebagai salah satu donor terbesar WHO, menyebabkan defisit miliaran dolar dalam anggaran periode 2026–2027 dan memaksa badan kesehatan dunia tersebut memangkas 21% dari rencana pengeluarannya. (Sumber: sindonews.com)