Hukum Meninggalkan Shalat Jumat: Dari Sanksi Spiritual hingga Status Munafik

DAARUTTAUHIID.ORGShalat Jumat bukan sekadar rutinitas mingguan, melainkan pilar kewajiban bagi setiap Muslim laki-laki yang sudah baligh, sehat secara fisik, dan tidak sedang dalam perjalanan (mukim).

Dasar hukumnya sangat kuat, tertuang langsung dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 9, di mana Allah SWT memerintahkan umat beriman untuk segera meninggalkan segala aktivitas duniawi—termasuk jual beli—saat adzan Jumat berkumandang demi mengingat-Nya.

Apa Risikonya Jika Sengaja Meninggalkan Shalat Jumat?

Mengabaikan Shalat Jumat tanpa alasan yang sah (udzur syar’i) bukan perkara sepele. Menurut Kiai Nurul Irfan dari Komisi Fatwa MUI, tindakan ini tergolong dosa besar. Berikut adalah konsekuensi spiritual yang disebutkan dalam hadits:

  • Hati yang Terkunci: Rasulullah SAW memperingatkan bahwa mereka yang terus-menerus meninggalkan Shalat Jumat berisiko dikunci hatinya oleh Allah sehingga menjadi orang yang lalai (HR. Muslim).
  • Dicatat sebagai Munafik: Meninggalkan Shalat Jumat tiga kali berturut-turut karena meremehkannya dapat menyebabkan seseorang dicatat dalam golongan orang munafik (HR. Ath-Thabrani).
  • Stempel Kelalaian: Dalam riwayat lain, ditegaskan bahwa Allah akan menutup hati hamba-Nya yang absen tiga kali karena lalai (HR. Abu Daud).

Kiai Nurul Irfan menjelaskan bahwa istilah “murtad” dalam konteks ini tidak selalu berarti keluar dari agama Islam secara otomatis, melainkan sebuah peringatan keras tentang betapa fatalnya meninggalkan kewajiban fundamental dalam agama.

Pengecualian dan Keringanan (Udzur Syar’i)

Islam adalah agama yang memudahkan. Kewajiban Shalat Jumat bisa gugur dan digantikan dengan Shalat Zuhur dalam kondisi tertentu, seperti:

  • Sedang Sakit: Orang yang kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk ke masjid.
  • Musafir: Seseorang yang tengah melakukan perjalanan jauh.
  • Perempuan: Tidak diwajibkan mengikuti Shalat Jumat dan cukup menunaikan Shalat Zuhur di rumah (meskipun diperbolehkan jika ingin ikut berjamaah di masjid).

Shalat adalah identitas pembeda seorang Muslim. Mengingat beratnya konsekuensi spiritual yang mengintai, sangat penting bagi kita untuk tidak meremehkan ibadah mingguan ini. Jangan sampai kesibukan duniawi membuat hati kita “terkunci” dari hidayah.

Redaktur: Wahid Ikhwan


DAARUTTAUHIID.ORG