Jejak Abadi Al-Kariim: Kisah Persahabatan Harry Kiss (Ayah Almarhum Vidi Aldiano), Aa Gym, dan Pesantren DT
DAARUTTAUHIID.ORG | BANDUNG — Di balik gemerlap dunia hiburan yang melingkupi keluarga mendiang Harry Kiss—ayahanda penyanyi Vidi Aldiano—tersimpan sebuah narasi spiritual yang membekas di tanah Parongpong, Bandung Barat.
Ini bukan sekadar cerita tentang pembangunan fisik sebuah bangunan, melainkan kisah tentang bisikan di Tanah Suci, persahabatan yang tulus, dan komitmen terhadap pemberdayaan umat melalui wakaf.
Semua bermula dari lingkaran persahabatan. KH Abdullah Gymnastiar, atau yang akrab disapa Aa Gym, memiliki tiga sahabat pengusaha yang kerap menghabiskan waktu bersama.
Salah satunya adalah Harry Kiss. Suasana sejuk Cijanggel awalnya hanya menjadi tempat bagi mereka untuk membangun vila peristirahatan, sebuah pelarian sejenak dari hiruk-pikuk ibu kota.
Namun, sebuah perjalanan Umrah bersama Aa Gym mengubah segalanya.
Bisikan di Multazam
Saat berada di depan Multazam—tempat yang mustajab untuk berdoa di Masjidil Haram—Harry Kiss mengalami sebuah peristiwa spiritual yang menggetarkan batinnya.
Ia mengaku menerima “bisikan” atau ketetapan hati yang kuat: “Kalau kamu pulang ke Indonesia, bangunlah masjid bernama Al-Kariim.”
Gejolak muncul di benak Harry. Ia merasa tidak percaya diri dengan amanah tersebut. Setelah berdoa, ia mendekati Aa Gym dan menceritakan kegelisahannya.
“Aa, apakah ini tidak salah? Saya ini bukan orang sholeh,” tanya Harry ragu.
Dengan bijak, Aa Gym merespons keraguan sahabatnya itu sebagai sebuah peluang kebaikan. Aa menyampaikan bahwa ia memiliki lahan di daerah Parongpong, dekat kawasan Advent, yang dirasa sangat cocok untuk mendirikan masjid.
Lokasi tersebut dipilih dengan visi strategis untuk membentengi akidah warga sekitar sekaligus menjadi pusat syiar Islam di wilayah Cijanggel.
Perjalanan Wakaf yang Produktif
Sepulangnya ke tanah air, survei lokasi dilakukan. Kecocokan pun ditemukan. Pada tahun 2006, pembangunan Masjid Al-Kariim dimulai.
Dua tahun berselang, tepatnya pada 2008, setelah bangunan berdiri megah, Harry Kiss mengambil keputusan besar: ia mewakafkan masjid tersebut sepenuhnya kepada Pesantren Daarut Tauhiid (DT).
Keputusan tersebut menjadi titik balik bagi kawasan Parongpong. Masjid Al-Kariim tidak hanya menjadi tempat salat, tetapi bertransformasi menjadi pusat peradaban kecil:
- Pendidikan: Menjadi asrama dan tempat belajar bagi para santri Baitul Quran.
- Sosial: Digunakan untuk pengajian ibu-ibu, Taman Kanak-kanak (TK), dan pusat literasi bagi masyarakat sekitar.
- Ekonomi: Mengusung konsep wakaf produktif, kini di area tersebut terdapat peternakan domba, ayam, serta lahan perkebunan yang hasilnya memberi manfaat langsung bagi warga.
Warisan yang Terus Mengalir
Hingga saat ini, area Masjid Al-Kariim tetap menjadi aset wakaf yang dikelola secara profesional oleh Yayasan Daarut Tauhiid. Keberadaan masjid ini menjadi saksi bisu bahwa niat tulus, meski diawali dengan keraguan diri, bisa berbuah menjadi manfaat yang abadi.
Bagi keluarga almarhum Harry Kiss, Al-Kariim adalah amal jariyah yang tak terputus. Bagi warga Parongpong, ia adalah benteng akidah dan sumber kehidupan.
Dan bagi kita semua, kisah ini adalah pengingat bahwa panggilan untuk berbuat baik bisa datang kepada siapa saja, di mana saja—terutama di tempat yang paling suci di bumi. (MS/WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan
