Hangatnya Berbuka di “Masjid Setengah Jadi”: Potret Ramadhan di Masjid DT Rahmatan Lil’alamin Batam

DAARUTTAUHIID.ORG | BATAM — Di pinggiran Kota Batam, sebuah struktur bangunan dengan perancah yang masih berdiri tegak menjadi saksi bisu perjuangan pembangunan.

Masjid DT Rahmatan Lil’alamin Batam, sebuah proyek monumental di bawah pengelolaan Wakaf Daarut Tauhiid, memang belum mencapai tahap penyelesaian 100%.

Namun, dinding-dindingnya yang belum berhias cat sempurna itu justru menyimpan kehangatan spiritual yang luar biasa, terutama di bulan suci Ramadhan ini.

Meski progres fisik masih terus dikejar, fungsi masjid sebagai pusat peradaban dan sosial sudah berjalan penuh. Setiap sudut bangunan yang sudah fungsional kini dipenuhi oleh lantunan ayat suci Al-Qur’an dan keriuhan ibadah para santri serta jamaah sekitar.

Berkah Berbuka dalam Keterbatasan

Salah satu pemandangan paling menyentuh hati setiap sore adalah persiapan Buka Puasa Bersama. Di tengah kondisi bangunan yang belum selesai, semangat berbagi justru tumbuh subur. Setiap harinya, pengelola menyiapkan kurang lebih 50 paket menu berbuka puasa.

Angka 50 mungkin terlihat sederhana bagi sebuah kota besar, namun bagi santri dan warga yang hadir, paket tersebut adalah simbol keberkahan wakaf.

Kebersamaan Santri: Para santri yang menimba ilmu di kawasan ini duduk bersimpuh dalam barisan rapi, menanti azan Maghrib tiba.

Kehadiran Warga: Warga sekitar masjid turut hadir, membaur tanpa sekat, menciptakan harmoni tetangga yang erat di bawah naungan atap yang sedang dibangun.

“Walaupun belum jadi seratus persen, rasanya masjid ini sudah sangat ‘hidup’. Berbuka di sini terasa lebih syahdu karena kita melihat langsung proses perjuangan membangun rumah Allah ini,” ujar Aryandi, salah satu santri karya.

Wakaf yang Terus Mengalir

Kawasan Masjid Rahmatan Lil’alamin Batam merupakan aset Wakaf Daarut Tauhiid yang diproyeksikan menjadi pusat dakwah terpadu.

Fakta bahwa masjid ini sudah digunakan secara aktif meski konstruksi masih berjalan menunjukkan bahwa dana wakaf yang disetorkan para muwakif (pewakaf) telah memberikan manfaat nyata secara instan.

Pemanfaatan lahan wakaf ini membuktikan bahwa keberadaan masjid bukan hanya soal kemegahan arsitektur, melainkan soal seberapa besar dampak yang dirasakan oleh umat di sekelilingnya.

Pihak pengelola terus berupaya menyelesaikan pembangunan agar fasilitas masjid bisa lebih optimal. Harapannya, Ramadhan tahun depan masjid ini sudah berdiri kokoh dengan fasilitas yang lengkap, sehingga kapasitas jamaah dan paket berbuka puasa yang disediakan bisa meningkat berkali-kali lipat.

Hadirnya 50 paket nasi setiap sore di tengah debu pembangunan adalah pengingat: bahwa untuk berbuat baik dan menebar manfaat, kita tidak perlu menunggu hingga semuanya menjadi sempurna. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


DAARUTTAUHIID.ORG