BBM Naik, Tauhid Jangan Sampai Turun

DAARUTTAUHIID.ORGBelakangan ini masyarakat kita dihadapkan pada berbagai isu yang memicu kegelisahan berjama’ah. Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, kenaikan harga BBM non-subsidi yang tetiba naik di tengah malam, auto meningkatnya biaya hidup sehari-hari, ombang-ambing ketidakpastian ekonomi global, hingga derasnya perdebatan dan polarisasi di media sosial tentang siapa yang harus bertanggung jawab atas kondisi tersebut. Tidak sedikit masyarakat yang merasa cemas, marah, bahkan kehilangan tafa’ul atau optimisme menghadapi masa depan.

Di tengah situasi seperti ini, Islam mengajarkan kita bahwa setiap peristiwa tidak hanya harus dilihat lahiriyah dari sisi ekonomi atau politik semata, tetapi juga dari sisi batiniyah, keimanan dan kualitas diri. Sebab ujian hidup yang sesungguhnya bukan hanya tentang naik turunnya nilai mata uang atau harga kebutuhan pokok, melainkan bagaimana kita sebagai manusia islam menyikapi semua itu dengan tauhid yang benar.

Krisis Ekonomi atau Krisis Cara Pandang?

Era digital membuat informasi menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasi. Ketika isu dolar naik atau BBM meningkat menjadi perbincangan publik, media sosial segera dipenuhi komentar, analisis, kritik, bahkan tudingan yang sering kali bercampur aduk antara fakta, opini, dan emosi.

Dalam perspektif psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai social contagion atau penularan sosial, yaitu proses ketika emosi dan persepsi menyebar dari satu orang kepada orang lain melalui interaksi sosial dan media digital. Ketika masyarakat terus-menerus terpapar narasi ketakutan, kemarahan, dan pesimisme, maka emosi tersebut dapat menular dan membentuk kecemasan kolektif (Ferrara & Yang, 2015). Maka tidak mengherankan jika satu unggahan yang provokatif dapat memicu ribuan komentar  lainnya yang bernada negatif dan memperbesar keresahan publik.

Akibatnya, yang terjadi bukan lagi sekadar diskusi tentang ekonomi dan politik, tetapi menjadi pemicu kepanikan sosial. Orang ikut marah karena lingkungannya marah. Orang ikut cemas karena media sosial dipenuhi kecemasan. Padahal Allah Subhanahu wata’aala. telah mengingatkan:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Karena itu, kita sebagai seorang Muslim tidak boleh turut ambil bagian menjadi penyebar kepanikan. Justru kita harus ambil bagian menjadi penyebar ketenangan, kebenaran, dan harapan.

Kritik Itu Boleh, Asal Bertujuan Memperbaiki

Ketika kondisi ekonomi dirasakan semakin berat, kritik kepada pemerintah menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari. Islam tidak melarang mutlak kritik. Bahkan sebagian para ulama menjelaskan bahwa menasihati pemimpin merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.

Misal dalam sebagian keterangannya, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ulama dan masyarakat memiliki kewajiban moral untuk mengingatkan penguasa apabila terdapat kebijakan yang berpotensi menimbulkan kemudaratan bagi ummat atau rakyat (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Juz II). Kritik yang bertujuan menghadirkan kemaslahatan dan mencegah kemungkaran merupakan bagian dari tanggung jawab sosial seorang Muslim.

Namun Islam juga mengajarkan bahwa kritik harus dilandasi niat yang benar juga caranya yang benar, pastikan niatnya untuk memperbaiki keadaan, juga caranya juga bukan dengan berupa mempermalukan, memfitnah, atau menyebarkan kebencian. Karena sejatinya kritik yang baik lahir dari fitrah diri berupa rasa kepedulian, sedangkan hujatan lahir dari hawa nafsu yang menunggangi amarah yang tidak terkendali.

Dalam sejarah Islam, kita menemukan bagaimana para ulama besar tetap menjaga keseimbangan antara keberanian menyampaikan kebenaran dan menjaga persatuan umat. Kritik yang disampaikan dengan ilmu dan akhlak akan membuka ruang perbaikan, sedangkan kritik yang dipenuhi kebencian justru melahirkan perpecahan.

Karena itu, jika masyarakat merasakan dampak kenaikan BBM, meningkatnya biaya hidup, atau tekanan ekonomi lainnya, maka menyampaikan kritik merupakan hal yang wajar. Akan tetapi kritik harus berbasis data, disampaikan dengan adab, serta diiringi solusi yang membangun atau konstruktif. Seorang Muslim harus berupaya menjadi bagian problem solving, ia tidak hanya bertanya, “Siapa yang salah?” tetapi juga bertanya, “Apa yang bisa diperbaiki?”

BBM Naik, Jangan Sampai Tauhid Turun

Persoalan terbesar sebenarnya bukanlah ketika dolar menyentuh Rp18.000 atau ketika harga BBM mengalami kenaikan. Persoalan yang lebih berbahaya adalah ketika kondisi tersebut membuat manusia kehilangan ketentraman dan ketenangan hidup, kehilangan harapan, bahkan kehilangan keyakinan kepada Allah.

Sebagian orang begitu takut terhadap kondisi ekonomi hingga seolah-olah masa depan hidupnya sepenuhnya ditentukan oleh kurs mata uang, harga bahan bakar, atau kondisi pasar. Ketika nilai tukar naik, ia gelisah. Ketika harga kebutuhan meningkat, ia putus asa. Ketika mendengar berita negatif, ia merasa masa depan telah tertutup.

Padahal seorang mukmin meyakini bahwa rezeki bukan berasal dari dolar, bukan pula dari jabatan atau pasar. Semua itu hanyalah sebab yang Allah ciptakan dalam kehidupan. Pemberi rezeki yang sesungguhnya adalah Allah Al-Razzaq.

Tauhid yang benar tidak membuat seseorang mengabaikan realitas ekonomi. Kita tetap harus memahami keadaan, membaca data, mengelola keuangan, dan bekerja keras. Namun hati tetap bergantung kepada Allah, bukan kepada angka-angka.

Karena itu, ketika BBM naik, jangan sampai tauhid turun. Ketika ekonomi bergejolak, jangan sampai keyakinan kepada Allah melemah. Dan ketika keadaan terasa sulit, jangan sampai kita kehilangan harapan terhadap pertolongan-Nya.

Dzikir, Fikir, dan Ikhtiar: Jalan Tauhid Menghadapi Krisis

Dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, Pesantren Daarut Tauhiid mengajarkan sebuah paradigma yang sederhana namun sangat mendalam, yaitu Dzikir, Fikir, dan Ikhtiar. Ketiga konsep ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah cara pandang hidup yang berakar pada tauhid.

Dzikir mengajarkan bahwa sebelum melihat persoalan dengan mata, kita harus melihatnya dengan hati yang terhubung kepada Allah artinya melibatkan selalu Allah dalam segala urusan. Fikir mengajarkan bahwa keimanan tidak boleh mematikan akal, tetapi justru mendorong manusia untuk memahami realitas secara objektif, melakukan tabayyun, dan mencari solusi terbaik. Sedangkan Ikhtiar mengajarkan bahwa setiap masalah harus dijawab dengan tindakan nyata, kerja keras, dan kontribusi positif. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dzikir tanpa fikir dapat melahirkan kepasrahan yang keliru, fikir tanpa dzikir dapat melahirkan kecemasan dan kesombongan, sementara ikhtiar tanpa dzikir dan fikir berpotensi kehilangan arah dan keberkahan.

Dalam kehidupan sehari-hari, konsep ini sangat relevan. Ketika mendengar kabar dolar naik atau BBM meningkat, seorang mukmin tidak langsung panik dan ikut menyebarkan ketakutan. Ia memperkuat dzikir agar hatinya tetap tenang. Ia menggunakan fikir untuk mencari informasi yang benar, memahami penyebab persoalan, dan tidak mudah terprovokasi oleh opini yang menyesatkan. Kemudian ia melakukan ikhtiar dengan mengelola keuangan lebih bijak, meningkatkan kompetensi diri, memperkuat usaha, bekerja lebih produktif, dan membantu sesama yang sedang mengalami kesulitan.

Begitu pula ketika melihat kebijakan pemerintah yang dianggap kurang tepat. Ia tidak serta-merta menghujat atau mencaci. Ia memperkuat dzikrullah agar emosinya terkendali, menggunakan fikir untuk memahami persoalan secara utuh, lalu berikhtiar menyampaikan kritik yang santun, objektif, dan membangun.

Inilah implementasi tauhid dalam kehidupan nyata. Tauhid tidak berhenti di masjid dan ruang ibadah semata, tetapi hadir dalam cara kita membaca berita, merespons keadaan, mengelola emosi, mengambil keputusan, dan berinteraksi dengan sesama.

Menjadi Pribadi Bagian dari Solusi

Hari ini bangsa kita tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai mengkritik, tetapi juga orang-orang yang mampu menghadirkan ketentraman juga ketenangan, harapan, dan solusi.

Masyarakat tidak membutuhkan lebih banyak kemarahan. Masyarakat membutuhkan lebih banyak uswah atau keteladanan. Tidak membutuhkan lebih banyak provokasi, tetapi membutuhkan lebih banyak kontribusi.

Karena itu, mari jadikan setiap peristiwa sebagai sarana memperkuat tauhid. Jangan biarkan media sosial mengendalikan hati kita. Jangan biarkan perbedaan pendapat memecah ukhuwah. Dan jangan biarkan kondisi ekonomi melemahkan semangat untuk terus berbuat baik.

Dolar boleh naik. Harga BBM boleh berubah. Tantangan kehidupan boleh datang silih berganti. Namun seorang mukmin akan tetap kokoh selama ia menjaga dzikirnya, meluruskan fikirnya, dan menguatkan ikhtiarnya.

Karena sesungguhnya, krisis ekonomi mungkin dapat melemahkan nilai mata uang, tetapi jangan sampai melemahkan nilai tauhid dalam hati kita.

Pada akhirnya, tidak semua persoalan ekonomi dapat kita kendalikan. Kita tidak dapat menentukan nilai tukar mata uang, harga minyak dunia, atau berbagai kebijakan yang diambil oleh para pemangku kepentingan. Namun kita selalu dapat memilih bagaimana menyikapi keadaan. Seorang mukmin tidak menghadapi ujian dengan kepanikan, tetapi dengan ketenangan. Tidak menghadapinya dengan keluhan semata, tetapi dengan ikhtiar. Tidak menggantungkan harapan kepada keadaan, tetapi kepada Allah yang menguasai seluruh keadaan.

Setelah berusaha memperkuat dzikir, menjernihkan fikir, dan menyempurnakan ikhtiar, kita menyadari bahwa pada akhirnya segala urusan kembali kepada Allah Subhanahu wata’aala. Ketika ekonomi bergejolak, saat harga-harga meningkat, ketika kritik dan perdebatan memenuhi ruang publik, seorang mukmin tetap memiliki tempat kembali yang paling kokoh, yaitu bersandar kepada Allah dengan penuh keyakinan. Sebab ketenangan sejati bukan lahir dari stabilnya keadaan, melainkan dari kuatnya hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Karena itu, marilah kita menutup renungan ini dengan doa, memohon ketenangan hati, keberkahan rezeki, kejernihan berpikir, dan kekuatan untuk tetap menjaga tauhid di tengah berbagai perubahan dan tantangan kehidupan.

Diantara Do’a yang relevan dengan kondisi kita saat ini;

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ،[1] وَارْزُقْنَا قُلُوبًا مُطْمَئِنَّةً، وَعُقُولًا حَكِيمَةً، وَهِمَمًا صَادِقَةً فِي طَاعَتِكَ

Allāhumma ikfinā bihalālika ‘an harāmika, wa aghninā bifadhlika ‘amman siwāka, warzuqnā qulūban muthma’innah, wa ‘uqūlan hakīmah, wa himaman shādiqah fī thā’atik.

Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki-Mu yang halal sehingga kami terhindar dari yang haram. Limpahkanlah kepada kami karunia-Mu sehingga kami tidak bergantung kepada selain-Mu. Anugerahkanlah kepada kami hati yang tenang, akal yang bijaksana, dan semangat yang tulus dalam ketaatan kepada-Mu.

Ya Allah, kuatkan dzikir kami agar hati tetap tenang, terangilah fikir kami agar mampu melihat kebenaran, dan berkahilah ikhtiar kami agar menjadi jalan hadirnya manfaat bagi sesama. Jangan jadikan perubahan keadaan dunia melemahkan tauhid dalam hati kami. Jadikan setiap ujian sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Mu, semakin bijak dalam berpikir, dan semakin sungguh-sungguh dalam berikhtiar. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin. Wallāhu a’lam bish-shawāb.

Oleh:

Dr. Tedhi Abu Humam, S.Kom.I., M.Sos. (Dosen & Ketua Program Studi Komunikasi Dan Penyiaran Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Daarut Tauhiid Bandung)

Referensi:

Al-Ghazali. Ihya’ Ulumuddin. Juz II.

Ferrara, E., & Yang, Z. (2015). Measuring Emotional Contagion in Social Media.

Zeng, J., & Zhu, L. (2019). Social Media, Rumor Diffusion and Collective Behavior.

HR. Tirmidzi, no. 3563; hasan menurut At-Tirmidzi, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaliy menyetujui hasannya hadits ini.