Menyalakan Kembali Asa, DT Peduli Bangun Sekolah Darurat Indonesia di Gaza

DAARUTTAUHIID.ORG | GAZA — Puing konflik berkepanjangan tak lantas memadamkan hak belajar anak-anak Palestina. Bersama UNICEF, Lembaga Amil Zakat Nasional DT Peduli merintis pembangunan Sekolah Darurat Indonesia di Deir al-Balah, Jalur Gaza. Sekolah sementara ini berdiri di atas lahan sewa seluas 4.800 meter persegi, tepat berhadapan dengan Masjid Daarut Tauhiid Gaza.

Ikhtiar diawali dengan pembersihan, sterilisasi, hingga pengamanan area menggunakan pagar kawat pada Sabtu (24/10/2026). Pemasangan tenda-tenda ruang belajar kemudian resmi dikerjakan mulai Senin (26/10/2026) guna merangkul kembali anak-anak Gaza yang kehilangan hak belajarnya sejak pecahnya peristiwa 7 Oktober 2023. Palestine and Islamic Worldwide Coordinator DT Peduli, Kevin Akbar, menegaskan bahwa pemilihan titik lokasi ini tidak hanya mempertimbangkan aspek teknis, melainkan juga nilai strategis dan filosofis kepedulian masyarakat Indonesia.

“Harapannya, sekolah ini dapat terus diperluas untuk menampung lebih banyak anak Palestina yang pendidikannya terputus akibat perang,” ujar Kevin.

Kawasan Terpadu di Gaza

Pembangunan sekolah ini juga menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan ekosistem Daarut Tauhiid di Gaza. Sebagaimana perjalanan Daarut Tauhiid di Bandung yang tumbuh dari masjid, kawasan di Deir al-Balah tersebut diharapkan berkembang melalui pendidikan dan berbagai layanan kemanusiaan.

“Lokasinya benar-benar strategis karena berada di depan Masjid Daarut Tauhiid Gaza. Kami berharap dapat mereplikasi semangat Daarut Tauhiid Bandung di Gaza. Diawali dengan masjid, kemudian pendidikan, dan selanjutnya berkembang menjadi ekosistem lainnya,” lanjut Kevin.

Secara bertahap, kawasan terpadu tersebut juga disiapkan untuk menampung Dapur Indonesia untuk Palestina, Klinik Indonesia, serta fasilitas penunjang kemanusiaan lainnya. Integrasi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan primer warga terdampak, mulai dari sarana ibadah, pendidikan, ketahanan pangan, hingga akses kesehatan. Kendati demikian, tantangan keberlanjutan masih membayang mengingat lahan seluas 4.800 meter persegi tersebut berstatus sewa tahunan.

Keberlangsungan operasional sekolah darurat beserta cita-cita pembangunan kawasan terpadu ini sangat bergantung pada solidaritas jangka panjang. Dukungan kolektif dari berbagai elemen bangsa—mulai dari lembaga, korporasi, komunitas, hingga seluruh rakyat Indonesia—menjadi kunci utama untuk membiayai sewa lahan, operasional pendidikan, serta pengembangan fasilitas kemanusiaan di sana.

Dari sepetak tanah di depan masjid di Deir al-Balah, Indonesia kembali menegaskan komitmennya. Sebuah ikhtiar nyata untuk memastikan anak-anak Gaza tidak kehilangan masa depan, menjaga api harapan, dan terus merajut cita-cita mereka. (Yurid/Astri Rahmayanti)