Aa Gym: Lisan adalah Gerbang Kebahagiaan dan Penderitaan

DAARUTTAUHIID.ORGSalah satu tanda keimanan seseorang adalah memiliki kemampuan dalam menjaga lisannya. Salah satu gerbang apakah seseorang akan bahagia dan sengsara maka tergantung pada lisannya. Dalam salah satu hadits disebutkan:

مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam.” (Muttafaqun ‘alaih)

Jadi, siapa pun yang menghendaki hidup mulia, hidup bahagia, dan hidup tenang, maka pilihannya tidak lain adalah menjaga lisannya.

Banyak dalam sebuah hadits disebutkan tentang jaminan dan keutamaan menjaga lisan akan menjadi ahli surga.

Begitu juga sebaliknya, jika tidak memiliki kemampuan menjaga lisan maka akan mudah tergelincir dan menjadi ahli neraka.

Setidaknya inilah cara kita untuk menjaga lisan agar kita tidak mudah tergelincir pada perkataan yang sia-sia. Yaitu menjaga diri dari kesia-siaan.

Suatu saat ada yang bertanya, “muslim seperti apa yang lebih afdhal?” Maka jawabannya ialah seorang muslim yang mampu menjaga lisannya.

Kita harus bekerja keras semaksimal mungkin untuk tidak mengomentari hal yang bisa mengotori hati, tidak perlu menanyakan sesuatu yang tidak perlu ditanyakan, dan tidak perlu juga ingin tahu sesuatu kecuali yang benar-benar manfaat.

Sebelum berbicara coba tanya hati terlebih dahulu, kira-kira apa tujuan kita berbicara? Pikirkan apa yang ingin diucapkan, karena setiap ucapan akan ditulis oleh malaikat Rokib dan Atid.

Setiap kata yang kita ucapkan tidak ada yang terlepas dari pencatatan malaikat. Kelihatannya mengucapkan kata-kata begitu mudah, tetapi setelah mengucapkan kata-kata tersebut akan menjadi beban, karena setiap ucapan kita tidak akan pernah kembali lagi.

Bahkan Umar bin Khattab pernah menyampaikan dalam sebuah ungkapan bahwa:

“Barangsiapa yang banyak bicaranya, banyak kesalahannya. Barangsiapa yang banyak kesalahannya, akan banyak dosanya. Dan barangsiapa yang banyak dosanya, maka neraka adalah tempat yang pantas baginya.”

Oleh karenanya penting bagi kita untuk berhati-hati jika berbicara! Agar untaian kata yang meluncur dari lisan kita, bukanlah kata-kata yang sia-sia tanpa makna. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


DAARUTTAUHIID.ORG