Geliat Ekonomi di Balik Khidmatnya Mabit: Pujasera Sahabat DT Padat Dikunjungi Jamaah

DAARUTTAUHIID.ORG | BANDUNG — Suasana khidmat menyelimuti kawasan Pesantren Daarut Tauhiid (DT) Bandung pada momentum pergantian bulan, 31 Januari hingga 1 Februari 2026. Di tengah gema zikir dan tausiyah program Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit), terdapat pemandangan menarik di salah satu aset wakaf produktif DT, yakni Pujasera Sahabat.

Area pusat kuliner yang berlokasi strategis di kawasan ekonomi pesantren tersebut terpantau ramai luar biasa. Ribuan jamaah yang hadir tampak memadati gerai-gerai makanan dan minuman, menciptakan perputaran ekonomi yang signifikan bagi warga sekitar.

Magnet Kuliner Bagi 3.500 Jamaah

Agenda Mabit kali ini tercatat dihadiri oleh sekitar 3.500 jamaah yang datang dari berbagai penjuru Bandung Raya dan sekitarnya. Membludaknya jumlah peserta yang menginap di masjid dan area pesantren secara langsung memberikan dampak positif bagi para pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah).

Pujasera Sahabat sendiri menjadi “pelabuhan” utama bagi jamaah untuk melepas lapar dan dahaga di sela-sela jadwal kegiatan. Menariknya, pujasera ini diisi oleh berbagai tenant UMKM FnB (Food and Beverage), baik dari warga sekitar Gegerkalong maupun mitra umum.

Keragaman menu—mulai dari makanan berat khas Sunda hingga camilan kekinian—menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah yang ingin mengisi tenaga sebelum melanjutkan agenda ibadah.

Implementasi Nyata Wakaf Produktif

Pujasera Sahabat bukan sekadar pusat jajanan biasa. Unit bisnis ini merupakan salah satu pilar dari Wakaf Produktif yang dikembangkan oleh Lembaga Wakaf DT.

Dalam skema wakaf produktif, aset yang diwakafkan (berupa lahan dan bangunan) tidak dibiarkan statis, melainkan dikelola secara profesional menjadi unit bisnis yang menghasilkan surplus. Berikut adalah poin utama pengembangan unit bisnis Wakaf DT:

  • Pemberdayaan Ekonomi Lokal: Memberikan ruang bagi warga sekitar untuk berniaga (UMKM) di lahan wakaf dengan sistem yang adil, sehingga kemanfaatan wakaf terasa secara ekonomi bagi tetangga pesantren.
  • Kemandirian Lembaga: Keuntungan dari pengelolaan unit bisnis seperti Pujasera Sahabat digunakan kembali untuk membiayai operasional dakwah, pendidikan santri penghafal Al-Qur’an, dan pemeliharaan fasilitas pesantren.
  • Keberlanjutan (Sustainability): Melalui unit bisnis ini, dana wakaf terus “bekerja” menciptakan nilai tambah tanpa mengurangi nilai pokok aset wakaf itu sendiri.

“Ramainya Pujasera Sahabat saat momen Mabit adalah bukti bahwa wakaf bisa menjadi motor penggerak ekonomi rakyat sekaligus penopang kegiatan dakwah secara mandiri,” ungkap Rezki, pengelola area bisnis Wakaf DT.

Membangun Ekosistem Madani

Pemandangan di Pujasera Sahabat pada akhir pekan tersebut memberikan gambaran nyata mengenai ekosistem “Ekonomi Syariah” yang inklusif. Jamaah mendapatkan layanan konsumsi yang baik, pedagang kecil mendapatkan peningkatan omzet, dan lembaga wakaf mendapatkan surplus untuk keberlanjutan program umat.

Dengan suksesnya sinergi antara kegiatan spiritual dan pemberdayaan ekonomi ini, Wakaf DT terus membuktikan bahwa pengelolaan wakaf yang profesional mampu memberikan dampak multidimensi bagi masyarakat luas. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


DAARUTTAUHIID.ORG