Ingin Selamat? Jauhkan Diri Dari Hal Ini! (bag. 1)

Saudaraku, salah satu perilaku yang dilarang Rasulullah SAW bagi kaum muslimin adalah saling bermusuhan. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah memperkuat hal ini, “Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka akan diampuni semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, kecuali dua orang laki-laki yang terdapat permusuhan antara dia dengan saudaranya. Maka dikatakan, ‘Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai keduanya berdamai. Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai keduanya berdamai. Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai keduanya berdamai.” (HR. Bukhari Muslim)

Betapa Rasulullah di dalam hadis ini amat mengecam umatnya yang saling bermusuhan, apalagi hingga tidak mau berdamai dan saling memaafkan. Kecaman beliau sangatlah kuat sampai-sampai ancamannya adalah tidak diampuni dosa-dosanya, sehingga pintu surga tertutup bagi mereka.

Marilah kita ingat kembali bagaimana Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Kerekatan tali persaudaraan di antara mereka melampaui kerekatan berdasarkan tanah air, suku bangsa, dan bahasa. Bahkan melampaui persaudaraan yang berdasarkan pertalian darah atau nasab.

Ada satu kisah yang terselip di tengah kisah agung tentang hijrahnya Rasulullah bersama para sahabat dan persaudaraan antara kaum Mujahirin dan Anshar. Yaitu kisah Saad Ibn Ar Rabi’ dan Abdurrahman Ibn ‘Auf. Saad dari kaum Anshar, sedang Abdurrahman dari kaum Muhajirin. Keduanya adalah sama-sama sahabat Rasulullah yang kaya raya.

Ketika hijrah ke Madinah, Abdurrahman tidak membawa harta kekayaannya yang ada di Mekkah. Maka, ia pun tiba di Madinah sebagai orang yang tidak berpunya. Kemudian, Rasulullah mempersaudarakannya dengan Saad. Saad pun seketika itu menawarkan bagian dari kekayaannya untuk dimiliki Abdurrahman. Bahkan, Saad menawarkan salah satu istrinya untuk diceraikan dan kemudian diperistri Abdurrahman. Namun, meskipun Saad menawarkan semua itu dengan penuh kesungguhan, Abdurrahman menolaknya secara halus dan memilih berusaha sendiri melalui perniagaan.

Membaca penggalan kisah kedua sahabat Rasulullah ini, maka kita bisa melihat betapa agungnya persaudaraan sesama muslim. Sungguh, tidak ada keuntungan yang akan kita dapatkan dari pemusuhan, selain dari sesaknya hati dan rasa gelisah manakala berjumpa dengan saudara yang bermusuhan dengan kita.

Oleh karena itu berbesar jiwalah, lapangkan hati kita untuk mau memohon maaf dan memberi maaf. Sebagai gambaran, kalau kita berada di dalam sebuah kamar sempit, dan di kamar itu ada seekor tikus kecil, maka sungguh terasa sengsaranya kita. Betapa tikus itu menjadi masalah yang terasa amat besar buat kita. Namun, kalau kita berada di dalam ruang yang sangat luas yang bahkan seolah tak berbatas, maka jika ada seekor gajah besar di dalam ruangan itu tidak menjadi masalah besar untuk kita.

Demikianlah jika kita memiliki kebesaran jiwa dan kelapangan hati. Rasa kesal, marah, dan permusuhan dengan saudara kita, tidak menjadi masalah untuk kita. Karena kita memiliki kemudahan untuk mau meminta maaf dan memberi maaf. Wallahu a’lam bishowab.

(KH. Abdullah Gymnastiar)

daaruttauhiid.org