Lisan yang Selalu Memuji Allah

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. al-Baqarah [2]: 267)

Saudaraku, salah satu ikhtiar kita agar menjadi pribadi yang pandai bersyukur kepada Allah adalah zikir memuji-Nya. Sebuah keterangan diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, Rasulullah bersabda, “Zikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallaah, dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillaah.” (HR. Tirmidzi, Hakim, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)

Basahkan lisan kita dengan zikir dan doa memuji Allah. Tiada satu pun perbuatan-Nya kecuali pasti kebaikan. Tidak ada sekecil apa pun ketetapan Allah kecuali pasti ada hikmahnya. Tidak ada peristiwa yang terjadi kecuali atas izin Allah, dan semuanya itu tidak ada yang sia-sia. Latihlah lisan kita untuk senantiasa spontan memuji-Nya setiap kali menyaksikan suatu peristiwa, sesederhana apa pun peristiwa tersebut.

Demikian juga manakala kita menghadapi kenyataan hidup. Senantiasa ucapkan Alhamdulillaah atas apa pun kenyataan yang kita hadapi, baik itu sesuatu yang menurut kita kemudahan maupun kesulitan. Setiap menemui kemudahan maka pujilah Allah sebagai Dzat Yang Maha Memiliki dan Maha Memberi. Tiada mungkin kemudahan itu terjadi kecuali atas izin Allah SWT.

Demikian pula dengan kesulitan yang kita hadapi, jika kita renungi lebih dalam, kesulitan adalah karunia yang perlu disyukuri. Mengapa? Karena dengan kesulitan itu kita bisa menemukan kesempatan mengintrospeksi diri, menaubati kelalaian yang boleh jadi kita lakukan secara disadari maupun tidak. Kesempatan introspeksi dan memperbaiki diri adalah kesempatan yang sangat berharga dari Allah. Karena artinya Allah sedang menyapa kita dengan kasih sayang-Nya, supaya kita istiqamah berpegang teguh kepada-Nya. Masya Allah! 

Allah adalah al-Hamiid, Dzat Yang Maha Terpuji. Al-Hamiid tersusun dari huruf ha, mim, dal. Kata yang terangkai dengan tiga huruf ini memiliki arti terpuji, lawan dari tercela. ‘Muhammad’ adalah nama yang memiliki rangkaian tiga huruf tersebut, dan berarti orang yang diciptakan Allah tidak memiliki cela.

Kata al-Hamiid terulang sebanyak 17 (tujuh belas) kali di dalam al-Quran, 10 di antaranya berdampingan dengan asma Allah yang lain yaitu al-Ghaniy, Allah Yang Mahakaya. Dari hal ini dipahami Allah Maha Terpuji, namun segala pujian dari makhluk kepada Allah tidaklah berpengaruh apa-apa bagi-Nya. Sedikit pun tidak menambah keagungan-Nya, kemuliaan-Nya dan kekuasaan-Nya karena Allah Mahakaya, tidak memerlukan apa pun dari makhluk-Nya.

Jadi jika kita memuji Allah, maka kebaikannya hanya kembali kepada kita saja. Tidak bertambah keagungan Allah karena pujian kita. Juga tidak berkurang keagungan Allah karena kedurhakaan makhluk kepada-Nya.

Kalimat tahmid adalah ekspresi rasa syukur kita kepada Allah SWT. Hati sangat yakin Allah Mahakuasa atas segala sesuatu lagi Maha Terpuji, lisan mengikrarkan pujian kita kepada-Nya. Jadi, makin kita bersyukur, memuji kepada Allah, maka kita semakin beruntung. Allah tidak mendapatkan keuntungan karena pujian kita, tetapi kita semakin beruntung karena memuji Allah. Kalau pun kita kufur kepada-Nya, maka Allah tidaklah rugi, yang rugi adalah diri kita sendiri disebabkan kekufuran kita kepada-Nya.

Allah berfirman, “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman [31]: 12)

Biasakanlah lisan kita memuji Allah SWT setiap kali mendapatkan keberuntungan, kenikmatan atau kesenangan, karena sesungguhnya tiada yang bisa mengizinkan semua itu datang kepada kita kecuali Allah. Akrabkan lisan kita dengan memuji Allah setiap kali kita menyaksikan kejadian-kejadian luar biasa, termasuk kejadian yang sudah dianggap biasa padahal kejadian itu tidak bisa dilakukan oleh manusia. Seperti saat kita melewati gelapnya malam, kemudian masuk pada waktu fajar saat cahaya matahari pelan-pelan menerangi bumi.

Lisan yang terlatih memuji Allah akan memperkokoh hati untuk yakin pada kebesaran-Nya. Ungkapan lisan yang baik adalah bagian dari akhlak mulia, dan akhlak mulia lahir dari hati yang mulia. Lisan yang selalu berzikir adalah buah dari hati yang juga selalu ingat kepada Allah.

Ada amalan yang dahsyat sekali dan tiada bandingannya. Kepada para sahabat, Rasulullah bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kalian mengenai amalan kalian yang terbaik, dan yang paling suci di sisi Raja (Allah) kalian, paling tinggi derajatnya, serta lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada bertemu dengan musuh kemudian kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian?” 

Para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Kemudian, Rasulullah bersabda, “Berzikir kepada Allah ta’ala.” Mu’adz bin Jabal berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih dapat menyelamatkan dari azab Allah daripada zikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ibn Majah)

Jadi, ada amalan yang hebat sekali yaitu zikir. Kenapa amalan ini hebat? Karena setiap nabi dan rasul hadir di dunia untuk memperkenalkan Allah kepada seluruh manusia, sehingga mereka beriman dan semakin kuat keimanannya. Penting bagi kita untuk mengenal Allah dan beriman kepada-Nya. Karena Allah-lah Pencipta kita dan kepada-Nya kita kembali.

Jika manusia tidak mengenal Allah, maka manusia lebih mengenal dunia dan menjadi hamba dunia. Yang disembah adalah uang, harta, pangkat, jabatan, popularitas, penilaian makhluk, bukan Allah Dzat Yang Mahakuasa atas segalanya. Sebagai perumpamaan sederhana, bagi orang yang baru mengenal batu ali maka ia akan terkagum-kagum. Namun, setelah ia mengenal nilai batu permata, maka batu ali baginya menjadi tiada berarti lagi.

Demikian juga bagi yang mengenal dunia, maka ia akan terkagum-kagum pada keindahannya. Namun, setelah ia mengenal Allah, maka dunia menjadi tiada artinya lagi selain hanya sebagai sarana untuk beribadah kepada -Nya.

Zikir adalah ciri orang bersyukur. Seorang ahli syukur pasti identik dengan hati dan lisannya yang senantiasa berzikir. Rasulullah saw mengajarkan sebuah doa supaya kita menjadi hamba yang ahli zikir dan syukur. Doa tersebut berbunyi, “Allahumma a’innii ‘ala dzikrika wa syukrika, wa husni ‘ibaadatik.’ (Duhai Allah, bimbinglah aku untuk mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu, serta agar bisa beribadah dengan baik kepada-Mu).” (HR. An-Nasa’i  dan Ahmad)

Mari kita latih hati dan lisan agar gemar berzikir, mengingat dan memuji Allah SWT. Zikir adalah ciri dari ahli syukur. (KH. Abdullah Gymnastiar)

sumber foto: www.hijaz.id

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *