Aa Gym: Bahaya Jika Semua Orang Jadi Kaya

DAARUTTAUHIID.ORGJangan silau dengan kekayaan, karena dapat menipu seseorang. Misalkan warga Bandung berjumlah kurang lebih tujuh juta jiwa.

Sore ini, seluruhnya diajak berkumpul di Gasibu. Bersama-sama berdoa kepada Alloh supaya setiap orang di Bandung diberi 100 miliar. Lalu, doa ini dikabulkan oleh Alloh, dan uangnya datang setelah Subuh.

Kira-kira apa yang akan terjadi? Berapa banyak saudara kita yang bisa meninggal? Seperti jantungan karena melihat uang 10 juta saja jarang.

Belum lagi hewan-hewan ternak yang terpaksa tidur di halaman, disebabkan kandangnya diisi uang oleh sang tuan yang rumahnya tidak muat.

Di tepi jalan raya, dilihatnya angkot sudah diparkir menumpuk. Kata para supirnya, “kalau mau ke sekolah pilih saja angkotnya dan bawa sendiri, kami sedang sibuk pesan mobil balap.”

Begitu juga dengan tukang becak yang bergembira menginjak-injak becaknya. “Masa lalu,” kata mereka.

Lalu dihampiri tukang ojek. “Dik, pakai motor saya saja, tapi ambil di pinggir sawah sana dan bersihkan sendiri. Nggak usah dibalikin, saya sudah pesan motor cross terbaru.”

Para guru juga datang hanya untuk berpamitan. “Anak-anak, bapak dan ibu guru berharap mulai sekarang kalian bisa belajar mandiri. Kami telah mengajukan pensiun dini, karena akan membuat sekolah sendiri-sendiri.”

Ada cerita juga seorang anak dengan rasa lelah dan lapar lalu berjalan pulang. Karena tenaganya sudah benar-benar terkuras, akhirnya duduk diatas trotoar sebelum tanjakan.

Tiba-tiba ayahnya menelpon, “Kamu di mana? Tolong bantu, ayah kehabisan bensin. Pom bensin tutup, tidak ada lagi yang mau jaga. Padahal mamimu minta ayah ke luar kota untuk membeli sayur. Di Bandung sudah tidak ada yang mau jadi tukang sayur.” Bagaimana kira-kira kesimpulannya?

Seandainya semua kaya, maka Bandung akan benar-benar kacau. Gubernur pun jadi menyapu dan mengepel lantai kantornya sendiri.

Karena jangankan tukang sapu, sangat mungkin semua PNS di sana juga sudah memecat dirinya sendiri. Itu baru dimisalkan dengan warga Bandung, bagaimana kalau se-Indonesia yang kaya?

Ada cerita lainnya lagi tentang seseorang yang doanya mustajab. Ia tidak tega melihat petugas sampah, tukang jahit keliling yang bersepeda, dan profesi semacamnya di sebuah desa.

Kemudian ia berdoa, “Ya Alloh, jangan biarkan mereka miskin.” Suatu waktu ia datang kembali ke desa itu. Dilihatnya bangunan sudah bertingkat-tingkat dan megah, semuanya kaya dan makmur.

Tapi desanya kotor karena tidak ada tukang sampah. Pakaian mereka robek karena tidak ada tukang jahit. Rambut mereka gondrong karena merasa rugi dengan tarif satu milyar untuk sekali bercukur.

Jadi, mohon maaf kalau berulang kali saya kemukakan, tidak penting menjadi orang kaya. Jangan kagum pada perkataan kaya. Jangan minder melihat atau bertemu orang kaya.

Jangan lagi tertarik membicarakan tentang bagaimana jadi kaya. Karena kaya itu baunya saja sudah pengap dengan bau nafsu.

Tentu saja tidak dilarang kalau kita mau menjadi kaya dengan niat, upaya dan penggunaan yang baik dan benar. Tetapi, sebetulnya masing-masing kita juga sudah ada garisnya.

Alloh yang Mahabaik lebih mengetahui tentang apa yang terbaik bagi diri kita. Hanya Dia yang benar-benar menginginkan kita menjadi lebih baik. Islam mengajarkan qana’ah bahwa yang penting itu cukup, dan cukup itu terukur. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


DAARUTTAUHIID.ORG