Akibat Dari Sikap Ikhlas

Akibat Dari Sikap Ikhlas

Ciri-ciri orang yang ikhlas adalah hatinya tenang dan tentram. Jika ada orang yang gelisah karena urusan dunia maka itu merupakan ciri orang yang kurang ikhlas. Pertanyaannya adalah apakah seseorang itu boleh gelisah?. Gelisah itu sah-sah saja, hanya saja gelisah itu ada tempat dan waktunya, gelisah merasa takut amal tidak diterima, gelisah ketika ajal menghampiri tapi merasa bekal tidak cukup, gelisah ketika dosa-dosanya tidak ditaubati dengan baik, takut azab kubur, semua hal tersebut merupakan gelisah yang bagus.

Kemudian orang yang ikhlas tidak akan gelisah oleh sikap orang kepada dirinya. Ali bin Abi Thalib pernah menyampaikan: “Semua kepahitan sudah kurasakan, dan tidak ada yang lebih pahit selain berharap kepada manusia.” Jika hati sudah berharap pada manusia, seperti berharap ingin dipuji, diketahui, dan dihormati dari makhuk, biasanya Allah menanamkan kegelisahan dalam hati seseorang.

Hadirin, Allah maha tahu siapa diantara kita yang ikhlas dan yang tidak ikhlas. Karena Allah tahu isi hati kita dan Allah yang menurunkan sakinah atau ketenangan kedalam hati seseorang. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Fath ayat 4:

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ۗ وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”

Oleh karenanya, hati ini tidak akan bisa tenang kecuali Allah yang menenangkannya. Hati hanya akan tenang apabila zikrullah atau mengingat kepada Allah. Kalau tidak ikhlas maka bisa dipastikan tidak akan tenang. Firman Allah dalam surat Az-Zumar: 2 – 3 memberikan pesan yang begitu penting:

إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡڪِتَـٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصً۬ا لَّهُ ٱلدِّينَ (٢) أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُ‌ۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦۤ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِى مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِى مَنۡ هُوَ كَـٰذِبٌ۬ ڪَفَّارٌ۬ (٣)

“Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”

Dengan sikap ikhlas maka insyaAllah hati kita tidak akan terus-terusan merasa gelisah karena mengharap suatu balasan dari apa yang dilakukan. Kalau sudah ikhlas pasti hati jadi tenang, setelah melakukan sesuatu ya sudah ga usah diingat-ingat. Lupakan kebaikan kita kepada orang lain, dan ingat kebaikan orang lain kepada kita. Wallahu a’lam bishowab.

(KH. Abdullah Gymnastiar)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *