Ibu, Madrasah Keluarga

Kata ibu dalam al-Quran disebut umm yang berasal dari akar kata serupa dengan umat, yang artinya pemimpin yang dituju atau diteladani. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa ibu dapat mencetak para pemimpin bahkan dapat membina umat melalui perhatian dan keteladanannya dalam mendidik anak.

Demikian juga sebaliknya, jika ibu yang melahirkan buah hati tidak mampu berfungsi sebagai umm, maka akan hancur generasi-generasi selanjutnya. Kemudian tidak akan muncul pemimpin yang bisa diteladani. Sedangkan kata madrasah adalah istilah kata dari bahasa Arab yaitu nama tempat dari kata darasa-yadrusu-darsan wa durusun wa dirasatun, yang berarti terhapus, hilang bekasnya, menghapus, menjadi usang, dan melatih.

Dilihat dari pengertian ini maka madrasah berarti tempat untuk menghilangkan ketidaktahuan atau memberantas kebodohan peserta didik, serta melatih kemampuan mereka sesuai dengan bakat dan minat dan kemampuannya. Dengan kata lain madrasah ialah tempat mencerdaskan para peserta didik.

Ibu dan Peran Utama

Dari penjelasan tersebut ada kemiripan peran ibu dan madrasah, yakni pembangun dasar perilaku atau moralitas anak melalui arahan dengan berbagai keutamaan, hasrat tindakan, dan keyakinan diri. Dalam konsep parenting Islam ada beberapa fase dalam mendidik anak. Anak adalah raja selama tujuh tahun pertama dan hamba pada tujuh tahun kedua, serta teman musyawarah pada tujuh tahun ketiga.

Berdasarkan siklus kehidupan tersebut, tentu ibu merupakan penanggung jawab utama terhadap pendidikan anak. Baik mendidik akhlak maupun kepribadian mereka. Ibu harus bekerja keras dalam mengawasi tingkah laku mereka dengan menanamkan perilaku terpuji, serta tujuan-tujuan yang mulia.

Sebagai contoh ketika muncul sifat negatif pada anak, hendaknya para ibu segera mendorong agar mereka menjauhi perilaku tersebut. Karena sifat-sifat ini akan meresap ke dalam jiwa anak seiring dengan perjalanan waktu. Ibarat pohon yang akar-akarnya telah meresap ke dalam tanah sungguh sulit untuk mengobati penyakit tersebut bila sudah besar.

Sifat dan perilaku tercela bukan hanya dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat saja, akan tetapi sangat dominan bermula dari lingkungan rumah atau keluarga. Karena ibu mempunyai andil yang lebih kuat dalam sebuah keluarga, maka seorang ibu harus mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Membimbing Anak dengan Kisah

Muatan pendidikan berupa sajian akidah Islam dan akhlak yang sempurna dapat disampaikan seorang ibu melalui kisah-kisah teladan. Cerita yang diperdengarkan pada anak-anak dapat disesuaikan dengan tingkat daya tangkap anak secara bertahap. Dengan senantiasa menceritakan kisah-kisah teladan kepada anak, pendidikan di rumah pun tidak akan terasa membosankan.

Ibu dapat menceritakan tentang kisah para nabi, yang mana tercermin padanya contoh indah dan hikmah kehidupan. Selain itu juga banyak kisah fabel bertokoh hewan dan tumbuhan yang bisa menjadi varian tema sembari mengenalkan anak pada lingkungan sekitar. Kisah-kisah ini bisa disampaikan saat anak-anak bermain, atau pun ketika mereka hendak tidur.

Para anak yang tumbuh dalam bimbingan kisah teladan yang disampaikan ibunya cenderung memiliki psikis yang lebih stabil. Bahkan banyak orang yang masih mengingat kisah masa kanak-kanak kendati mereka sudah dewasa. Hal ini menunjukkan betapa berpengaruhnya kisah-kisah yang diceritakan ibu kepada anak kala mereka masih kecil.* (Gian)

*disunting dari Ibu Sebagai Madrasah dalam Pendidikan Anak oleh Fithriani Gade

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *