Jangan Masukan ke Hati, Agar Tidak Sakit Hati

Hadirin, rekan-rekan sekalian..

Bagaimana jika ada seseorang yang menghina kita? Ya tidak apa-apa. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam saja yang mulia tapi dihina, kenapa kita yang hina ini tidak ada yang menghina. Orang yang menghina kita urusan dosannya dengan Allah Ta’ala, bukan urusan kita. Urusan kita adalah bagimana tetap bersikap baik terhadap orang yang menyakiti hati kita.

Mana yang lebih berbahaya mencopet atau dicopet? Ditipu atau menipu? Kalau kita dicopet atau ditipu boleh jadi sebagai penggugur dosa, pembersih harta, pengangkat derajat atau ujian bagi kita, tapi kalau menipu atau mencopet maka kita sudah termasuk orang yang jahat. Jadi jangan takut dengan orang yang menyakiti kita, karena yang berbahaya itu kita berbuat buruk ke orang lain.

Demikian juga dalam keluarga, mungkin sering kali konflik terjadi antara suami dan isti yang berujung menyakiti pasangan dengan perkataan, maka perlunya kebijaksanaan dan kedewasaan diantara pasangan menyikapi sebuah persoalan, belajar menjadi pendengar yang baik, perlunya ada yang mengalah, dan seterusnya. Terutama para suami harus banyak bersabar memahami sikap istri yang pada dasarnya begitu cepat berkata-kata tanpa memikirkan dampak perkataannya tersebut, lebih memainkan perasaannya dibandingkan logikanya.

Yang perlu kita lakukan adalah mengevalusi diri terhadap apa yang kita rasakan dan apa yang dikatakan orang lain, agar kita bisa mengambil setiap prilaku atau takdir yang menimpa kita. Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 79,

مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا  ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا

“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.” (QS. An-Nisa: 79)

Hadirin, jangan dipersulit mudahkanlah. Banyak-banyak bersabar, semuanya sudah ada waktu dan takdirnya, mohon ampun dan minta pertolongan kepada Allah Ta’ala semoga diberikan kekuatan dan kemudahan segala sesuatu yang menyakiti hati kita. Wallahu a’lam bishowab.

(KH. Abdullah Gymnastiar)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *