Jangan Meratapi Masalah atau Musibah

Saat ditimpa suatu kepahitan, kita langsung mengingat dan mengakui dosa yang telah mengundang kepahitan yang menimpa. Dan rida terhadap takdir yang sudah diberikan oleh Allah, karena Dia menyayangi kita.

Ada sebuah perumpamaan tentang anak kecil yang bermain kotor-kotoran, dan dia mandi sendiri tapi tidak bersih. Kemudian orangtuanya memandikannya supaya bersih. Namun si anak tidak mau, karena dia merasa kalau dirinya sudah bersih. Orangtuanya tetap membujuk agar anak yang disayanginya bersih. Sedangkan si anak terus menolak, meronta, dan berlari menghindar ke sana kemari sambil menangis. Sehingga saat orangtuanya membersihkan kepala, telinga sampai kakinya dengan penuh cinta, si anak pun terus tersedu-sedu, “Mengapa ibu membenci saya? Saya sudah mandi, saya tidak terima!”

Saudaraku, berapa lamakah waktu yang dibutuhkan anak tersebut untuk dimandikan orangtuanya? Selama ia menolak, meronta, berlari menghindar, tidak terima dimandikan, bahkan bisa bertambah lama jika ditambah lamanya waktu dia menangis. Bandingkan kalau si anak menerima saat orangtuanya ingin memandikan lagi. Misalnya ibunya berkata, “Nak, kamu masih kotor.” “Oh, iya bu, saya masih kotor,” jawab si anak sambil mengikuti ke kamar mandi. Dan tidak terasa, sudah selesai.

Nah, anak kecil itu adalah perumpamaan kita. Ketika menghadapi suatu masalah atau mendapat sebuah musibah, kita suka tidak menerima dan tidak sanggup mengendalikan diri. Menjadi galau, menangis tersedu-sedu, mengacak-acak kamar tidur, menggerutu dan mengutuk di facebook atau twitter. Ada juga yang memesan sekardus obat penenang, atau pergi ke diskotik meminum air keras dua liter. Bahkan ada yang mengambil jalan pintas lewat jendela untuk turun dari lantai tiga puluh. Padahal di gedung mewah itu sudah disediakan tangga yang canggih.

Mengapa kita tidak mengaku dan menerima saja? Saat ditimpa suatu kepahitan, kita langsung mengingat dan mengakui dosa yang telah mengundang kepahitan yang menimpa. Dan rida terhadap takdir yang sudah diberikan oleh Allah, karena Dia menyayangi kita. Allah Ta’ala ingin membersihkan dosa-dosa kita, dan kita harus bertobat. Tidak mungkin bagi kita untuk menolak musibah yang terjadi, karena kepahitannya sedang kita rasakan sendiri.

Dengan begitu, tidak mau mengakui dosa itulah yang berbahaya. Tidak mau bertobat yang membuat kepahitan itu terasa semakin dan sangat pahit. Kalau tidak mau bertobat, bisa jadi masalah yang datang akan bertambah. Karena sumber pengundang masalahnya masih dipegang.

“Dan barang siapa berbuat dosa, maka sesungguhnya dia mengerjakannya untuk kesulitan dirinya sendiri. Dan Allah Mahamengetahui, Mahabijaksana.” (QS. An-Nisa: 111).

Misalkan saudara lulus kuliah, dan diterima bekerja di sebuah perusahaan. Sebagai karyawan baru, saudara sangat bersemangat dan rajin. Tetapi mendekati tanggal gajian pertama, pimpinan saudara tiba-tiba diciduk karena penggelapan uang, sehingga perusahaan pun dinyatakan bangkrut.

Apakah kita akan menangis seharian, “Tangkap saja beliau yang telah zalim, tapi tolong kasihanilah saya.” Atau mungkin berlinang air mata, “Tolong ya Allah, saya baru bekerja. Ini pasti mimpi, benar-benar gaib.” Bukankah Allah yang kita mintai tolong juga gaib? Atau tersedu-sedu, “Ya Allah, ini sungguh tidak adil, saya bahkan belum gajian. Saya tidak terima!” Gaji memang belum diterima, tapi musibahnya sudah terjadi.

Saudaraku, yang benar adalah kita segera mengevaluasi diri. Dosa apa kita sehingga ditakdirkan bekerja di perusahaan yang akan bubar. Mungkin niat kita sewaktu mencari kerja salah, misalnya berniat memperkaya diri sendiri. Mungkin skripsi kita dulu dibuatkan atau menjiplak punya orang. Periksa, segera bertobat, dan terima takdir-Nya. Kemudian kembali berniat dan berikhtiar dengan baik dan benar. Selebihnya serahkan kepada Allah Ta’ala.

Wallahu a’lam bishowab.

(KH. Abdullah Gymnastiar)

daaruttauhiid.org