Allah Menyukai Mukmin Jujur

Kalau kita menyimak karir Muhammad saw sampai menjadi nabi, itu awal karirnya dibangun dengan satu gelar yang tidak ada sebelumnya, dan tidak ada sesudahnya. Apa itu? gelar al-Amin. Seorang yang sangat dipercaya, amanah, perkataannya dijamin kebenarannya, janjinya dijamin ditepati, amanah dijamin ditunaikan, sehingga tidak ada keraguan sama sekali.

Padahal Nabi Muhammad muda itu ganteng, tapi tidak disebut si tampan. Muhammad muda itu cerdas, tapi tidak disebut si brilian. Muhammad muda itu atletis, tapi tidak disebut si gagah. Jagoan, tapi tidak disebut si jagoan. Justru pujian kepada beliau adalah al-Amin. Ini luar biasa! Bagi siapa pun yang ingin membangun kehidupan sukses, inilah rute yang harus kita bangun.

Dari awal, sedini mungkin, berusahalah menjadi manusia yang jujur dan tepercaya. Al-Amin inilah yang mengantarkan Nabi ketika muda menjadi pengusaha. Orang yang punya modal, senang menitipkan barang jualan kepada Muhammad muda. Kalau beliau punya modal, beliau belanja barang, dan penjual senang barangnya dibeli Muhammad. Mengapa? Karena Muhammad tidak menjatuhkan, merugikan, dan membuat kesal penjual.

Banyak di antara kita yang seringkali menyakiti hati penjual. “Nu kieu wae didagangkeun (yang begini saja dijual), teu ngeunah (nggak enak).” Banyak juga penjual yang dibuat kesal, karena kita sering menawar dengan harga yang keji. Beda dengan Nabi Muhammad, kalau berbelanja, penjual yang dibeli barang dagangannya sangat suka dan bahagia.

Jadi penjual, Muhammad saw tidak mengurangi timbangan. Tidak ada kebohongan yang diucapkan. Tidak ada sumpah palsu. Semua senang dengan Nabi Muhammad. Siti Khadijah itu investor, menikah dengan profesional muda yang sukses yaitu Muhammad. Seorang yang sangat disegani, menikah dengan investor, begitu kejadian aslinya.

Orang jujur mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan ke jannah-Nya. Sebaliknya, dusta mengantarkan kepada keburukan, dan keburukan mengantarkan ke neraka-Nya.

Jadi, kalau kita ingin berbuat baik, ingin jadi ahli surga, jadi ahli kebaikan, maka mulailah dengan menjadi orang jujur. Orang sukses, pasti ada kejujuran di dalamnya. Orang hancur, pasti ada ketidakjujuran di dalamnya. Barang siapa yang jujur, akan mujur dan makmur. Barang siapa yang tidak jujur, pasti babak belur, lalu hancur.

Ayo, kita mulai kejujuran dalam diri kita. Kita ingin jadi orang yang diberi nikmat oleh Allah. Nah, nikmat yang pertama yaitu nikmat nabiyyin. Kita tidak bisa mencapai ini, karena sudah oleh Rasulullah saw. Kedua, orang-orang yang shidiq. Ketiga, syuhada. Keempat, salihin.

Jadi, kalau kita ingin punya kenikmatan dunia akhirat, jadilah orang yang shidiq. Orang yang ingin syuhada, walau matinya ditempat tidur, insya Allah bernilai syuhada kalau ada sifat shiddiq dalam dirinya.

Sekarang sudah jelas, rute masuk surga kata kuncinya adalah shidiq. Pertama, membenarkan apa yang dibawa oleh Rasulullah saw, risalah Islam, al-Quran, terima dengan sepenuhnya.

Kedua, mulai dengan niat yang benar, kata yang benar, dan sikap yang benar. Sehingga orang yang shidiq itu sama, perkataan, sikap, hati, semuanya klik. Karena ada yang perkataannya benar, dalilnya benar, tapi kelakuannya tidak benar. Nah, orang yang shidiq itu di depan siapa pun sama. Sama benarnya, tidak seperti bunglon, berubah-ubah.

Aa sering berkata kepada diri sendiri. Saya, Abdullah Gymnastiar. Seorang lelaki beriman, pantang bagi saya untuk bersikap munafik. Pantang bagi saya untuk menjadi seorang pendusta, pengingkar janji. Pantang bagi saya lari dari amanah-amanah. Saya seorang lelaki beriman, bukan lelaki munafik. Hujamkan terus pada diri seperti itu.

Kalau di Daarut Tauhiid itu ada tekad kehormatan. Kehormatan kami adalah menjadi muslim yang jujur dan tepercaya sampai mati, begitu. Dari kejujuranlah kita menjadi ahli surga. Tidak ada apa-apanya ganteng, cantik, kaya, cerdas, kalau punya akhlak tidak jujur. Sudah dibuat standar dalam hati kita menyukai orang yang jujur.

Tidak punya pilihan bagi kita selain jadi orang jujur. Jujur ini harus lillahi ta’ala. Tidak boleh jujur demi dapat istri, dapat suami, agar orang beli, agar naik pangkat, tidak boleh. Mengapa kita harus jujur? Karena Allah menyukai orang yang jujur.

Dihina karena jujur lebih baik, daripada dipuji tapi tidak jujur. Kalau Allah tidak suka, hidup tidak akan tenang, tidak mulia dalam pandangan Allah. Tidak apa-apa dipecat orang karena kita jujur, insya Allah nanti Ia ganti dengan pekerjaan yang lebih baik. Rezeki dari Allah luas.

Makanya kalau kita jujur, niatnya harus lillahi ta’ala, bukan karena agar dagangan laku. Kalau karena ingin dagangan laku, saat nggak laku, hilanglah kejujuran kita. Jujurlah agar Allah sayang, bukan agar si dia sayang. Ketika dia tidak tertarik dan sayang kepada kita, hilanglah kejujuran kita. Niat harus benar, tidak boleh akal-akalan. Laku tidak laku terserah Allah, yang penting saya jualan benar. Tidak mengurangi timbangan. Tidak bohong.

Luangkan waktu untuk evaluasi diri, apakah kita selama ini sudah menjadi mukmin yang jujur atau tidak? Hujamkan dalam hati untuk menjadi mukmin jujur, agar Allah sayang, agar Allah suka. Semoga Allah yang Mahabaik mengampuni sebusuk apa pun hidup yang telah kita lalui. Semoga Allah yang Maha Penyayang menuntun kita menjadi mukmin jujur. Aamiin Ya Rabbal Alamiin. (KH. Abdullah Gymnastiar)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *