Berbicara Mulai Dari Hati

Kita kerap kali mengucapkan sesuatu yang baik dari mulut kita. Namun pertanyaannya, apakah sesuatu yang kita ucapkan itu sudah datang dari hati kita, atau hanya sekedar ucapan belaka yang lewat begitu saja. Apakah setiap kata yang kita keluarkan dipikirkan terlebih dahulu atau tidak? Seharusnya apa yang keluar dari mulut kita kita pikirkan lebih dulu secara matang.

Apakah perkataan kita mempermalukan diri sendiri, apakah perkataan kita menyakiti hati orang lain atau tidak, apakah perkataan kita bermanfaat atau tidak, dan apakah perkataan kita membuat orang lain merasa terpojok dan terkenan? Dan seterusnya. Itulah yang harus kita pikirkan, sehingga orang lain tidak merasa terganggu dan terusik rasa nyamannya karena perkataan yang kita ucapkan.

Tidak semua yang benar itu harus dikatakan, misalkan ada hidung seseorang yang bentuknya pesek, maka kita tidak perlu mengucapkan bahwa hidungnya pesek, meskipun hal tersebut memang menjadi kenyataan yang sebenarnya, karena kalau pun diucapkan tidak aka nada manfaatkannya. Bahkan boleh jadi ketika kita mengatakan hidung seseorang pesek, hatinya merasa tersinggung.

Begitu juga kalau ingin memuji seseorang, maka gunakanlah Bahasa yang tepat agar seseorang tidak menjadi sombong dan ujub. Akan tetapi awalilah segala sesuatu dengan menyebut nama Allah, misalkan masyaAllah atas pertolongan kita bisa seperti ini, masyaAllah sungguh maha baik Allah itu, dan seterusnya.

Jika kita terbiasa berbicara tanpa berpikir, sebaiknya kita mulai ubah kebiasaan itu. Terkadang, tanpa disadari perkataan yang asal keluar dari mulut seseorang itu bisa melukai perasaan orang lain juga. Oleh karena itu, berpikir jernihlah sebelum berbicara. Jangan sampai menimbulkan masalah baru atau memperbesar masalah.

Rasulullah bersabda yang artinya:

“Bisa jadi seseorang mengatakan satu kalimat yang dimurkai Allah, suatu kalimat yang menurutnya tidak apa-apa. Akan tetapi, dengan sebab kalimat itu dia jatuh ke neraka selama tujuh puluh tahun.” (HR. Tirmidzi)