Bila Pujian Datang Kepada Kita

Pertama, Kita dipuji karena Allah Ta’ala memberikan sesuatu kepada kita, yang membuat kita dipuji, misalkan bentuk tubuh, kecerdasan, kekuatan, dan kelebihan lainnya. Jadi pujian apapun yang datang kepada kita merupakan karunia Allah.

Kedua, kenapa kita puji? Karena Allah Ta’la menutupi aib dan kesalahan kita. Sehingga orang berprasangka baik kepada kita, karena orang yang memuji kita tidak tahu bagaimana sebenarnya diri kita, dan hanya diri kita sendiri yang mengetahui bagaimana kita sebenarnya.  Berapa banyak perbuatan dosa yang kita lakukan setiap harinya dimana orang tidak mengetahuinya, mata kita berzina sulit untuk menjaga pandangan, pikiran kita kotor karena melihat sesuatu yang maksiat, dan hati kita dengki karena rasa ujub yang ada dalam diri kita.

Jika ada orang yang memujikan kita, maka ucapkan Alhamdulillah kembalikan lagi kepada Allah yang memberikan karunia, yang menjadi sebab kenapa kita dipuji oleh orang lain. Perlu diketahui bahwa nafsu itu senang untuk dipuji, kemudian membuat seseorang itu akan sering berbohong kalau sudah terbiasa selalu dipuji, membohongi diri sendiri. Contoh saja kalau difoto, kita menginginkan hasil dari foto tersebut tampilannya lebih mulus, padahal aslinya kita sudah mengetahui bahwa kita tidak mulus. Sehingga kita menjadi orang yang tidak berani tampil apa adanya.

Ingin kelihatan pinter, ingin kelihatan kaya, dan ingin kelihatan baik pasti menderita. Kita sebagai manusia cukuplah menjadi orang yang baik tanpa harus kelihatan menjadi orang baik didepan orang lain. Perlukah bagi kita dikagumi orang sebagai orang yang jujur? Tidak perlu kita dikagumi orang bahwa kita adalah orang jujur, karena itu hanya akan merusak diri kita dan amal kita.

Sebuah kisah dari seorang Lukmanul Hakim dan anaknya, Pada suatu hari Luqman bermaksud memberi nasihat kepada anaknya. Ia pun membawa anaknya menuju suatu kota dengan menggiring seekor keledai ikut berjalan bersamanya. Ketika Lukman dan anaknya lewat di hadapan seorang lelaki, ia berkata kepada keduanya,“Aku sungguh heran kepada kalian, mengapa keledai yang kalian bawa tidak kalian tunggangi?”

Setelah mendengar perkataan lelaki tersebut Luqman lantas menunggangi keledainya dan anaknya mengikutinya sambil berjalan. Belum berselang lama, kemudian ada orang heran kepada Luqman seraya berkata,“Wahai orang tua yang sombong! Engkau seenaknya menunggangi keledai, sementara engkau biarkan anakmu berlari di belakangmu bagai seorang hamba sahaya yang hina!”

Maka, Luqman pun membonceng anaknya menunggangi keledai. Kemudian Luqman beserta anaknya yang ia bonceng. Kemudian ada orang berkata berkata lagi, “Lihatlah! Lihatlah! Dua orang yang kuat ini sungguh tega menunggangi seekor keledai yang begitu lemah, seolah keduanya menginginkan keledainya mati dengan perlahan.”

Dari cerita diatas sudah jelas bahwa pujian itu membuat seseorang akan menderita, semakin mendengar perkataan orang lain, maka kita akan gelisah. Tidak semua perkataan dan pujian orang lain akan sesuai dengan harapan kita. Wallahu ‘alam bishowab.

(KH. Abdullah Gymnastiar)

 

Bagi Jama’ah sekalian yang tertarik untuk berkontribusi terhadap syiar dakwah dan wakaf untuk pembangunan sarana ibadah & belajar santri, bisa menyalurkannya melalui rekening berikut:

Bank Syariah Indonesia (BSI) 9255.373.000 an Yayasan Daarut Tauhiid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *