Indahnya Adab Seorang Muslim

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa adab merupakan tata krama moral atau nilai-nilai yang menjadi aturan dari lingkungan masyarakat dan disepakati karena kebaikannya. Kesepakatan merupakan dimensi tertinggi dalam menerapkan adab di tengah masyarakat. Sedangkan menurut Syed Naquib al-Attas, adab adalah ilmu untuk mencari pengetahuan yang lebih mendalam, yaitu penanaman kebaikan pada diri seseorang guna menjadi manusia yang sempurna.

Imam al-Ghazali menyederhanakan adab dalam kehidupan sehari-hari menurut Islam. Karena adab sebagai sebuah aturan yang bersifat baik, perlu diamalkan secara terus-menerus. Adab juga perlu dilakukan dengan ikhlas oleh masyarakat, baik secara horizontal maupun secara vertikal.

Perumpamaan Teman Baik

Sebelum menjelaskan adab kepada teman, Imam al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah lebih dahulu menjelaskan tentang cara memilih seorang teman. Sebagaimana salah satu hadis Nabi Muhammad saw:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ،

وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ،

وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Artinya: “Permisalan teman duduk yang saleh dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Ada pun penjual minyak wangi, bisa jadi dia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Ada pun tukang pandai besi, bisa jadi dia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (HR. al-Bukhârî no. 2101 dan Muslim no. 2628).

Jadi dalam hal ini, Islam menyarankan untuk melihat perilaku, baik kebaikan maupun kejujurannya dalam memilih teman. Teman yang baik membawa kita kepada kebaikan, begitu juga sebaliknya seperti yang dicontohkan sebagai penjual minyak wangi dalam hadis tersebut. Bergaul memang harus luas, namun memilih teman yang dipercaya kita harus selektif.

Adab kepada Sahabat

Imam al-Ghazali yang memiliki gelar Hujjatul Islam membagi adab kepada sahabat menjadi beberapa bagian. Pertama, mengutamakan kepentingan sahabat daripada dirinya sendiri. Kedua, menutup aib sahabat. Ketiga, mendengarkan sahabat ketika berdiskusi. Keempat, menghindari perdebatan yang tidak penting dengan sahabat. Kelima, memanggil sahabat dengan panggilan yang baik. Keenam, memberikan nasihat-nasihat yang baik kepada sahabat ketika sahabat lalai. Ketujuh, mendoakan sahabat ketika sahabat masih hidup dan ketika sudah meninggal. Kedelapan, menyapa dengan salam ketika bertemu dengan sahabat. Kesembilan, menyukai sahabat dengan tulus.

Sejalan dengan pemaparan ini, Yusof dan Abdullah dalam Adab Unggul Islam menjelaskan beberapa adab kepada teman, yang meliputi:  Pertama mengucapkan ungkapan kasih sayang baik secara zahir maupun batin karena Allah. Kedua, mengucapkan syukur ketika diberikan kebaikan dan bersabar ketika menerima ujian. Ketiga, berkunjung ke rumah teman untuk silaturahim, lebih-lebih ketika teman dalam keadaan sakit. Keempat, tidak mencela kepada sahabat. Kelima, selalu mendoakan kebaikan kepada teman. Keenam, tulus dan ikhlas. Ketujuh, mengutamakan keperluan teman daripada dirinya sendiri. Kedelapan, saling mengingatkan di kala teman sedang lalai. Kesembilan, mengedepankan toleransi kepada teman. Kesepuluh, selalu mempunyai niat untuk menggembirakan teman.

Pun pemaparan dari Umar bin Achmad Barjah dalam kitab Akhlaq li al-Banin yang menjelaskan adab kepada sahabat yaitu meliputi menghormati sahabat, mengikuti nasihat-nasihat mereka. Menghormati saudara meskipun masih kecil, tidak bertengkar serta tidak menyakiti hatinya, yaitu selalu menjalin persaudaraan sebaik mungkin.

Pada dasarnya adab sebagai seorang muslim tidak hanya terpaku pada poin-poin adab kepada sahabat, namun juga mencakup adab kepada kerabat dekat. Sebagaimana kewajiban menyambung silaturahim. Selain itu, adab yang harus dilakukan kepada sanak kerabat, yaitu menghormati kerabat yang lebih tua, saling menyayangi antara kerabat yang tua dan muda, berbelasungkawa jika ada kerabat yang kesusahan, menyantuni kerabat yang kurang mampu, tidak menggunjing maupun mengadu domba kerabat, dan saling menasihati dalam kebaikan. (Gian)

ket: ilustrasi foto diambil saat sebelum pandemi

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *