Keluarga Imran (1): Kompak dan Istiqamah di Tengah Ujian Nyata

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ingatlah), ketika istri Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat (di Baitulmakdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-Imran/3: 33-35).

Imran adalah sosok orang yang sangat komitmen dengan keyakinannya. Ia menjamu diri, keluarga, teman, dan seluruh masyarakat di sekitarnya untuk memegang teguh prinsip hidup yang akan memuliakannya di dunia dan akherat. Ia adalah keturunan Nabiyullah Ibrahim dari dua garis keturunan yang tersatukan, yaitu Nabi Ismail dan Nabi Ishak (dari anak pertamanya yang bernama Aish, kakak kembar Nabi Ya’qub).

Walau sangat merindukan keinginan buah hati sejak dini, namun Allah baru mengaruniakannya di masa tua, di saat kondisi tubuh tidak se-fit dan enerjik masa muda. Inilah ujian pertama. Ujian ini diperberat dengan qadarullah yang berkendak memanggil Imran (wafat) sebelum masa kelahiran sehingga sehingga seluruh harapan dan impian Imran bertumpu di “pundak” seorang istri tercinta.

Berdasarkan keterangan dari Ibnu Katsir, istri tercinta Imran bernama Hannah binti Faqud. Ia memiliki adik perempuan yang selanjutnya dinikahi oleh Nabi Zakaria. Walau kehidupannya bersama Imran sederhana, Hannah senantiasa setia menemani, mendampingi, dan menjadi “selimut” bagi suaminya sehingga Imran bisa leluasa melaksanakan sekaligus memperjuangkan program dan cita-cita semasa hidupnya.

Sepanjang hidup, Hannah senantiasa mendengarkan segenap harapan dan impian sang suami. Ia menyimaknya penuh khidmat, berharap sang suami terjaga semangat dan antusiasmenya dalam  berikhtiar maksimal menggulirkan cita-cita yang ingin diraihnya.

Suatu hari, Allah menganugerahkan kehadiran bayi di rahimnya. Hannah yang sudah “berusia” memanjat syukur dan bersegera menyampaikan kabar gembira ini kepada sang suami. Imran turut bergembira dan bersegera memanjatkan syukur kepada Allah Azza wa Jalla.

Rasa syukur tidak boleh sebata kata. Maka Imran membuat segenap program untuk “menjamu” calon bayi agar bisa terbimbing untuk tumbuh kembang menjadi generasi harapan yang mampu menjawab tantangan zaman. Ia mengawali dengan mengamanahkan sang istri agar telaten menjaga kondisi janin agar terisi dengan asupan yang baik dan “jamuan” lainnya yang sesuai dengan petunjuk (syari’at) Allah.

Hannah pun mengikutinya. Bahkan ia bertekad untuk memberikan energi lebih agar bayi yang dikandung sesuai harapan (ekspektasi) suami sampai ajal yang tidak bisa diterka datang menemui suaminya. Di tengah ujian kedua ini, Hannah tetap mengumpulkan energi untuk tetap fokus dan istiqamah merealisasikan harapan sang suami. Maka, ia bernadzar kepada Allah bahwa anak yang dikandungnya akan “dihibahkan”  untuk berkhidmat memikul tugas mulia di Baitul Maqdis.

Saat kelahiran yang dinanti tiba, Hannah terperanjat mengetahui bahwa anak yang dikandungnya selama ini berjenis-kelamin perempuan. Padahal para pelayan yang bertugas di Baitul Maqdis berjenis kelamin laki-laki. Di tengah kebingungan itu, ia berkoordinasi dengan adik iparnya yang telah Allah angkat sebagai Nabi-Nya, yaitu Nabi Zakaria.

Walau nampak aneh, Nabi Zakaria menerimanya dan menyampaikan bahwa ia akan mengawal serta menjaganya supaya harapan Imran dan Hannah tetap terlaksana.

Selanjutnya Hannah menamai bayi mungilnya dengan nama Maryam. Ia menjaganya sampai masa Maryam bisa dilepaskan untuk bertugas di Baitul Maqdis dalam bimbingan sang paman (Nabi Zakaria). “Jamuan” Hannah menjadi penentu apakah Maryam siap beraktivitas di Baitul Maqdis bersama yang lainnya atau malah mundur dengan memunculkan berbagai alasan yang sesuai kenyataan atau dibuat-buat.

Syahdan, Maryam menunjukkan sikap terbaiknya. Ia menyatakan siap mengikuti program yang telah disiapkan untuknya. Wallahu a’lam.

Oleh : Ustadz Edu, sumber foto : google.com

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *