Keluarga Imran (2): “Hadza min Indillah”, Kalimat Aqidah yang Harus Diyakini

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (QS.Al-Imran/3: 42).

Maryam remaja betul-betul menjaga diri. Ia berusaha tidak menampakkan diri di depan pelayan Baitul Maqdis lain yang berjenis kelamin laki-laki. Ketika ia berada di dalam mihrab maka dikuncinya mihrab tersebut agar tidak ada seorang pun yang bisa leluasa masuk, termasuk Nabi Zakaria sekalipun. Resikonya, ia seringkali tidak mendapatkan jatah kebutuhan makanan yang umumnya didapat oleh setiap pelayan Baitul Maqdis.

Luar biasanya, Maryam tidak pernah mengeluh. Ia menunjukkan kematangan berpikir dan bertindak sejak dini. Pikirannya senantiasa dipenuhi cahaya keimanan kepada Allah Azza wa Jalla sehingga menjadi pijakannya dalam “membaca” kondisi lingkungan di sekitarnya.

Suatu hari di saat Nabi Zakaria khawatir dengan keadaan Maryam, maka ia mengunjungi di mihrabnya. Setelah mengetahui tamu yang datang adalah pamannya, Maryam pun membuka pintu dan mempersilahkannya masuk. Setlah ada di dalam mihrab, Nabi Zakaria terkejut karena disana telah tersedia hidangan yang bisa mencukupi kebutuhan perutnya.

Oleh karena penasaran mengetahui asal muasal hidangan, Nabi Zakaria pun bertanya. “Hadza min indillah – Ini dari Allah” jawab Maryam dengan tegas sambil menjelaskan hal ihwal terjadi demikian. Dan sebagai seorang Rasul, Nabi Zakaria tidak merasa aneh dengan kejadian ini. Sebaliknya, ia bersyukur bahwa kejadian luar biasa ini menandakan bahwa keponakannya memiliki jiwa dan kebergantungan yang sangat kuat dengan Allah.

Suatu hari di saat usia Maryam sudah cukup dewasa sebagai seorang perempuan, tiba-tiba datang “seorang lelaki” menuju mihrabnya. Maryam terkejut. Ia bersegera menutup pintu mihrab dan memanjatkan doa perlindungan dari kehendak jahat “sang lelaki” tersebut.

Namun “sang lelaki” tetap bisa menemuinya.  Maryam semakin takut. Lalu “sang lelaki” menyampaikan bahwa ia adalah Jibril yang diutus Allah untuk menyampaikan salah satu takdir yang akan dialami Maryam.

Keimanannya kepada Allah mengantarkan Maryam untuk takdzim atas seluruh kuasa dan kehendak Allah. Ia menerima mengikhlaskan diri untuk menerima segala ketentuan Allah, termasuk takdir yang segera dijumpainya. Malaikat Jibril lalu menyampaikan berita kehamilan Maryam.

Sontak relung kalbu Maryam berdetak kencang mendengar informasi itu. Lantas ia ber-tabayun dengan bertanya perihal latar belakang kehamilannya karena ia belum memiliki suami dan bukan pula seorang pezina. Malaikat menasehatinya untuk bersabar dan menggembirakannya dengan kabar baik bahwa anak yang dikandung ini akan membawa kabar gembira karena ia adalah lelaki yang akan didekatkan kepada Allah dan dikenal di dunia dan akherat.

Maryam sadar bahwa kehendak Allah tidak bisa ditentang. Tinggallah manusia yang akan menentukan untuk menerima atau tidak sesuai ilmunya. Maryam yang telah mendapatkan asuhan terbaik menyikapi kejadian ini dengan berkata, “Hadza min indillah – Ini (semua) dari Allah”.

Soal pertama telah dijawab. Berikutnya, Maryam harus mengatur strategi menghindari fitnah yang akan dilontarkan oleh orang-orang jahil dan dzalim. Maka ia mengasingkan diri menuju negeri jauh agar bisa melahirkan dengan tenang.

Allah berkehendak Maryam melahirkan di tempat jauh ini. Pasca meIahirkan, ia merasakan sakit teramat sangat sehingga merasa tidak sanggup lagi membayangkan tiga kesulitan yang akan dihadapinya: 1) kesulitan menghadapi pertanyaan masyarakat tentang ayah sang anak, 2) memulihkan seorang diri pasca kelahiran, 3) membesarkan sang bayi menjadi orang sebagaimana yang diharapkan Bani Israil.

Atas kesusahan yang sedang dialaminya, Allah memberikan maunah berupa anak sungai (yang dengannya ia bisa minum dan memenuhi kebutuhan lainnya) dan pohon kurma yang ketika digoyangkan akan menggugurkan buah kurma matang yang siap dimakan. Dengan kedua pertolongan inilah Maryam melanjutkan diri berkarya untuk Allah di sisa masa hidupnya. Wallahu a’lam.

Oleh : Ustadz Edu, sumber foto : google.com

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *