Makna Secangkir Arabica

Assalamu’alaikum, selamat pagi semuanya! Alhamdulillâh, setelah melalui perjalanan yang panjang, menyambangi hati, diri, dan bentangan ayat-ayat Allah Azza wa Jalla di semesta raya, pada pagi ini kita masih diberi kesempatan dan kesehatan oleh Zat Yang Mahakuasa untuk menikmati beragam nikmat dari-Nya. Entah sudah berapa pagi, siang, atau pun sore yang sudah kita nikmati sensasinya selama hidup di dunia.

Mari kita syukuri pagi ini dengan menghirup dalam-dalam aroma cinta yang menguar dari kepulan uap secangkir Arabica. Biarkan uap itu meruap merasuki pembuluh-pembuluh bronchus di paru-paru kita dan mengalir bersama bulir-bulir darah merah. Lalu, cafein dalam uap itu akan melewati blood brain barrier dan memasuki labirin-labirin berdinding putih abu-abu yang terbangun dari lapisan spingolipid, fosfolipid, dan sekumpulan sel glia. Di dalamnya terdapat kompleks-kompleks kolumnar, membentuk tiang kolom, kulit otak. Tampak beberapa sel trapezoid piramidal bertingkat menjela-jela. Menjalar ke dalam jaringan, kilat menyambar nyambar, petirnya beraneka warna, neurotransmitter namanya.

Uap yang meruap dari secangkir kopi Arabica ada pula yang terdampar di area yang bernama dienchepalon. Menelusuri ia melewati lorong sempit bak gang Kota Roma di seputar Fontanelle Treviso, melompat-lompat dia bak seberangi Jembatan Rialto di Venezia. Kemudian, terhenyaklah ia dalam ketakjuban yang mengejutkan, sama dengan kita yang terperangah menatap cantiknya lembah-lembah Tuscany yang berbalut cahaya lembut menerobos tirai kabut.

Gang sempit itu adalah lorong enthorinal yang menghantarkan uap Arabica memasuki ”Candy Land” yang kaya warna, kaya rasa, kaya cita, kaya gita, desa paling ceria yang aroma paginya mengguncang gema gustatoria,
layaknya Alkmaar di Hollandia; seperti sebuah pagi di tepi dermaga pelabuhan ikan di Bordeaux; Prancis, seperti sore di Piazza Madrid dengan calamari yang menari-nari; seperti juga schnitzel sarapan pagi di sebuah lumbung Bavaria.

Area ini bernama hipokampus dengan gardu nukleus dentata dan kawat-kawat cable car yang bernama CA trajectory, di tempat inilah bahagia diproduksi yang bernama Candy Land, negeri gula-gula yang penuh dengan rasa ceria.
Uap Arabica itu juga menyublim dan menetes setelah terkondensasi, jatuhlah dia ke dasar otak tengah. Lewat ventral striatum dia melihat nucleus caudatus dan accumbens sibuk menampung hujan cinta berbulir tetes dopamine, serotonin, dan melanocortin. Hujan itu aneka warna, aneka rasa, ada yang ungu, itu membuat sendu, dan ada yang merah muda menjadikan hari-hari penuh cinta.

Tapi, banjir kimia menghanyutkan si uap Arabica ke sebuah pulau cantik bernama “Hipotalamus” inilah pulau ide, pulau gagasan, pulau imajinasi yang para seniman di dalamnya menginspirasi dunia tubuh manusia. Bayangkan, sebuah pulau dengan gugusan pohon kelapa dan pantai pasir putih mengelilinginya. Di sela-sela jernih biru azura airnya melenggak-lenggoklah ikan beragam rupa dan warna, berkelindan ia dengan eloknya sang moluska, Pulau Burung namanya, di Belitung tepatnya. Serupa itulah hipotalamus, ia mengatur, mewarnai, dan mengoordinasi hidup kita dengan kepiawaian seorang konduktor orkestra sejati, “the mother of glands” julukannya.

Uap Arabica kembali mengepul dari cangkir, tidak terasa matahari telah beradu dengan lembutnya cakrawala Pantai Kuta. Saya beranjak dari bawah tenda dan siap menelusuri gelapnya malam yang mulai menyapa. Sebuah bintang berkerlip, seolah bertanya kapan saya, Anda, dan kita semua akan bercerita tentangnya? ‘Selamat menempuh perjalanan nan indah menuju cinta Ilahi.
Oleh: Tauhid Nur Azhar, sumber foto : deviantart.com/azram