Menebar Amal di Era Digital

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. at-Tahrim [66]: 6)

Tidak dapat dipungkiri, pertumbuhan teknologi yang kian pesat dewasa ini, setidaknya banyak membawa dampak positif ataupun negatif bagi pendidikan anak-anak. Secara langsung kemajuan teknologi berperan penting pada tumbuh kembang anak zaman sekarang. Dengan fasilitas-fasilitas yang kita miliki, mulai dari TV, gadget, ipad, komputer, boleh dibilang setiap harinya kita dihadapkan dengan informasi-informasi secara bebas.

Di antara dampak positif dari penggunaan teknologi, yakni menambah ilmu pengetahuan melalui browsing, games, dan tontonan yang mengajarkan dan memberikan informasi. Selain itu, dapat memperluas wawasan secara global, baik pertemanan maupun budaya. Komunikasi antarkeluarga, teman, dan pekerjaan juga lebih mudah. Dampak positif itu jelas bermanfaat, jika kita bisa mengontrolnya dengan baik.

Dalam hal ini, peran orangtua sangat penting bagi anak. Dari mulai memberikan pendampingan, mengarahkan anak kepada informasi-informasi yang sesuai umurnya, melakukan pengawasan penggunaan teknologi dan melakukan proteksi dari hal-hal yang negatif, yang dengan mudah bisa diakses oleh anak kita.

Lantas, seperti apakah dampak negatif yang dihasilkan dari era digital? Hal umum yang terjadi adalah buah hati mengalami penurunan konsentrasi, kemampuan bersosialisasi, menganalisa permasalahan, malas menulis, dan membaca. Hal lain yang perlu diwaspadai adalah kesehatan fisik dan psikis keluarga. Alangkah indahnya jika di antara keluarga kita masih selalu menjaga dan saling tegur sapa, daripada sibuk dengan gadget di tangannya.

Di negara kita tercatat lebih dari 165.000 SD hingga SMA, 4.500 universitas dan 45 juta siswa. Pengguna internet lebih dari 60 juta orang per hari. Kemungkinan akan terus meningkat, seiring dengan kemudahan yang banyak ditawarkan provider. Mereka ini semua bisa dikategorikan sebagai generasi yang fasih digital dan internet (digital native). Tentu saja mereka lebih menguasai teknologi informasi daripada generasi sebelumnya yang masih konvensional. Keberadaan dan penggunaan teknologi informasi dalam suatu institusi pendidikan kini diposisikan sebagai penentu kualitas pendidikan. Menurut catatan lembaga riset Gardner, pada 2020 mendatang, sekitar 60% lembaga pendidikan tinggi dunia akan mentransformasikan seluruh sistemnya menjadi online.

Berdasarkan fenomena saat ini, anak usia sekolah dewasa kini sangat asik dengan media jejaring sosial, games online, chatting, dan sebagainya. Hal ini seharusnya menjadi fokus utama bagi para penyelenggara pendidikan dan pemerintah, khususnya orangtua dalam sebuah keluarga. Jelas sekali, kontrol diri penting untuk tetap dijaga. Mulai anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, hingga manula, ada baiknya selektif dalam menerapkan atau menggunakan sesuatu untuk dirinya.

Jika kita bersinergi melakukan kebaikan bersama, bisa dibayangkan, betapa besar kekuatan silaturahim dan ukhuwah kita. Bayangkan anak-anak dan keluarga kita, menggunakan handphone-nya untuk membaca al-Quran, buku-buku referensi, menebarkan nasihat, dan saling mengingatkan dalam amal saleh. Betapa indahnya, jika semua kemajuan teknologi saat ini, menjadi jalan tersebarnya berbagai kebaikan.

Dalam sebuah hadis disebutkan, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631). Mari sinergi dan berbagi. Mari jalin terus silaturahim dan perkokoh ukhuwah. Mari menebar amal di era digital. (Reza Shulbi)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *