Merawat Kebugaran Mental dengan Terapi Menulis

“Lewat tulisan kita menemukan teman yang selalu menerima tanpa menghakimi, karena tulisan adalah keluarga yang selalu menerima.” (quote-anonim)

Pernahkah dengar tentang therapeutic writing atau terapi menulis? Lalu, mengapa menulis bisa menjadi salah satu bentuk terapi? Terapi menulis termasuk jenis dari art therapy atau terapi seni. Yakni semua terapi psikologis yang menggunakan pendekatan seni dalam proses terapeutiknya. Contoh, terapi melukis, menyanyi atau mendengarkan musik, psikodrama (bermain peran), dan menulis salah satunya.

Terapi menulis pertama kali diperkenalkan oleh James W. Pennebaker. Seorang psikolog yang beraliran psikologi transpersonal (mazhab keempat setelah psikoanalisis, perilaku/behavioristik, dan kognitif).

Adapun menulis dapat menjadi pilihan efektif sebagai terapi karena:

  1. Tidak semua orang mudah untuk curhat. Ada yang tipikal introvert. Nah, menulis bisa menjembatani kita yang tidak leluasa mengungkapkan perasaan secara langsung kepada orang lain.
  1. Ketika meluapkan unek-unek dalam diri kepada orang lain, cenderung tidak mudah disampaikan secara blak-blakan. Selain itu, apakah orang tersebut bisa dipercaya menyimpan rahasia kita? Pengalaman sangat traumatik, luka batin mendalam condong dirahasiakan atau disimpan dalam-dalam. Dalam kondisi psikologis seperti itu, tidak mudah menemukan orang yang bisa benar-benar dipercaya dan dicurhati setiap saat.
  1. Manusia lazimnya lebih suka bicara daripada mendengarkan. Nah dengan menulis, kita tidak ‘merepotkan’ orang lain, yang boleh jadi tidak nyaman mendengarkan curhatan kita.

Jadi, dapat disimpulkan jika aktifitas menulis ternyata tidak sesederhana yang dikira. Bahkan terapi menulis terbukti mampu membuat seseorang yang memiliki trauma masa lalu parah, kemudian menjadi lebih baik dalam menata hidupnya.

Mengacu pada pendapat Karen Baikie, seorang clinical psychologist dari University of New South Wales, bahwa menuliskan peristiwa-peristiwa traumatik, penuh tekanan serta peristiwa yang penuh emosi bisa memperbaiki kesehatan fisik dan mental.

Contoh, cerita BJ. Habibie yang mampu bangkit dari depresi saat ditinggal pergi (meninggal) istrinya, Ainun. Ia diminta oleh dokter pribadinya untuk mulai melakukan terapi menulis, karena saat itu kondisi fisik maupun mentalnya sangatlah mengkhawatirkan. Hasilnya, jadilah buku tentang kisah romantis Habibie bersama istri tercinta. Buku ini kemudian diubah menjadi film ‘Habibie Ainun’ yang laris manis di pasaran.

Contoh lain, almarhum Buya Hamka. Ulama fenomenal Indonesia ini dikenal karena karya-karya tulisannya yang legendaris. Salah satunya adalah tafsir al-Azhar. Ternyata tafsir al-Azhar itu ditulis ketika ia berada di penjara sebagai tahanan politik.

Awalnya ketika ia dijebloskan di penjara, Buya Hamka sangat putus asa. Namun, ia bisa bangkit bahkan menulis tafsir al-Azhar karena membaca ulang tulisan-tulisan yang pernah dibuatnya. Dari tulisan-tulisannya itulah, Buya Hamka kembali memperoleh semangat hidup, dan kemudian melakukan ‘terapi menulis’ yang berbuah tafsir al-Azhar.

Pada praktiknya, terapi ini lazim dilakukan oleh generasi yang hidup pada era 80-90 tanpa mereka sendiri menyadarinya. Apa itu? Yaitu praktik atau kebiasaan menulis di buku diary. Pada masa itu, khususnya bagi remaja putri, buku diary bukanlah hal asing. Jadi barang ‘wajib’ dimiliki atau diberikan sebagai hadiah ulang tahun ke teman-teman dekat.

Apalagi tampilan buku diary sangat memikat mata, lengkap dengan quote kecil yang membuat hati semakin baper seperti, love at the first sight is endless love, always thinking about you, your eyes is like a rainbow, miss you like crazy, dan sebagainya.

Hasilnya, terbukti kebiasaan menulis di buku diary membuat hidup terasa lebih plong, tanpa beban. Problem hidup khas remaja seperti jatuh cinta, patah hati, dimusuhi teman, dibully, dimarahi guru, disetrap guru, dimarahi orangtua, bertengkar dengan kakak, adik yang menyebalkan, nilai ulangan jelek semua tumpah ruah di buku harian. Dilampiaskan di buku harian. Pendek kata rindu benci dendam cinta dibuang ke buku harian. Sayangnya, seiring dengan kehadiran internet atau dunia media sosial, kebiasaan ini terkikis.

Saat ini kita lebih terbiasa menulis status di media sosial (facebook, instagram, twitter) untuk memperoleh tanggapan dari orang lain. Bukan sebagai cara mengenal diri atau emosi terdalam yang dirasakan. Padahal, terapi menulis yang efektif adalah kita pertama-tama diharapkan bisa mengenali emosi yang dirasakan, kemudian emosi tersebut disalurkan ke dalam bentuk tulisan.

Oleh karenanya, sangat dianjurkan tulisan yang dibuat untuk konsumsi pribadi. Kalau pun hendak dishare kepada orang lain, maka harus siap dengan reaksi yang datang. Bisa positif maupun negatif, seperti memuji, menghujat, menyela, memberi nasihat, atau mencemooh. Jika kita tidak siap, bisa membuat kita tak punya waktu menenangkan diri. Tak ada jeda meredam marah. Yang ada justru kemarahan semakin meruncing.

Jangankan melampiaskan perasaan terpendam, justru postingan kita di medsos membuat persoalan baru yang membuat perasaan kembali tertekan. Jadi, pertimbangkan matang-matang jika memutuskan hendak memposting tulisan terkait diri di medsos.

Berikut ini, cara sederhana memulai terapi menulis (menulis ekspresif):

  1. Cari tempat atau suasana hening untuk menulis. Bisa di kamar pribadi atau tempat lain yang kondusif. Intinya tempat atau suasana yang membuat kita nyaman.
  1. Awali menulis dengan mengungkapkan apa yang dirasa atau mengganjal. Luapkan saja uneg-uneg. Semua beban, rasa marah, benci, kecewa, atau berbagai emosi negatif lainnya.
  1. Biarkan perasaan kita yang menulis. Biarkan mengalir seperti air. Ketika menulis sebagai terapi, yang diutamakan adalah prosesnya (meluapkan beban), bukan hasil tulisan. Jadi, jangan terlalu mempersoalkan EYD atau sistematika tulisan.
  1. Boleh jadi ketika menulis, kita akan merasa sangat emosional (menangis, misalnya). Tidak apa-apa, terus saja lanjutkan. Luapkan semuanya.
  1. Lakukan sekitar 15-30 menit setiap hari selama empat hari atau Dan kemudian rasakan bedanya, sebelum dan setelah menulis. 

Yakini semua orang perlu menulis. Yang mana menulis di sini dimaksudkan sebagai salah satu bentuk terapi. Jadi, jika kita enggan bertemu psikolog atau terapis, maka semoga menulis bisa menjadi salah satu ikhtiar menyembuhkan beragam keluhan psikologis, termasuk menjaga kebugaran mental dan emosional kita. Selamat mencoba! (daaruttauhiid)

sumber foto: kompasiana.com

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *