KESEDERHANAAN UMAR IBNU AL KHATTAB

Written by Ahmad Ramdhani

 

Para sahabat mengusulkan agar Khalifah Umar Ibnu Al Kattab mau menerima gaji sesuai dengan tanggung jawabnya sebagai seorang kholifah.

Tetapi usulan tersebut selalu ditolaknya.
dan beliau berkata: Mengapa kalian selalu memaksaku untuk menerima gaji yang melebihi dari kebutuhanku

Ketahuilah, Rasulullah Saw selama hidupnya lebih memilih hidup sederhana, lalu bagaimana mungkin aku hidup dalam berkecukupan

Suatu saat para sahabat mengusulkan agar beliau mengganti jubah yang selalu dipakainya sedangkan jubahnya sangat lusuh.

Demi menjaga penampilannya dihadapan kaisar romawi
Maka mereka sepakat menunjuk Imam Ali bin Abi Thalib agar Menggantinya dengan pakaian istimewa.

Ketika usulan tersebut telah sampai kepada Imam Ali, kemudian ditolaknya.

Imam Ali Ibnu Abi Thalib berkata: Aku tidak berani menyampaikan usulan kalian. Sedangkan istri-istri Rasulullah Saw masih ada dan Merekalah para Ummul Mukminin, yang lebih pantas untuk menyampaikannya

Para sahabatpun menemui Siti Aisyah ra.

Dan akhirnya Aisyah ra bersedia menyampaikan maksud para sahabat kepada Khalifah Umar ibnu Al Khattab. Kemudian Siti Aisyah ummul mu’minin itu pun berkata kepadanya:
Bolehkah aku menyampaikan sesuatu kepadamu, wahai Amirul Mukminin? kata Aisyah.

Silakan, jawab Khalifah Umar Ibnu Al Khattab

Khalifah Umar, Anda adalah seorang pemimpin negara. Anda mewarisi kekayaan Kaisar Romawi dan Persia

Kami melihat Anda menerima utusan bangsa Arab, tetapi jubah yang anda pakai sangat lusuh. Bagaimana jika jubah yang Anda kenakan segera diganti dengan yang baru agar tampak anggun dan berwibawa sebagai Khalifah

Bukankah Allah telah melimpahkan harta yang berlebihan di hadapan Anda?

Belum sampai Ummul Mu’minin menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Khalifah Umar menangis.

Demi Allah, aku bertanya kepadamu. Pernahkah Rasulullah Saw merasa kenyang karena makan roti mewah selama berhari-hari dalam hidupnya?

Tidak pernah,” jawab siti Aisyah.

Pernahkah Rasulullah Saw minta diberi hidangan makanan yang enak-enak dan pakaian yang bagus-bagus?

Belum pernah, jawab Aisyah

Wahai istri Rasulullah Saw, jika kalian tidak pernah menyaksikan Rasulullah Saw makan dan berpakaian serba mewah, lalu mengapa kalian berdua datang mengusulkan agar aku hidup mewah sepeninggal beliau?

Kemudian Kholifah Umar Ibnu Al Khattab tak kuasa menahan kesedihannya karena membayangkan bagaimana keadaan Nabi Saw selama hidupnya. Tak ada kemewahan selain hidup sederhana.

Sahabatku, apa yang bisa kita ambil pelajaran dari Pribadi Umar Ibnu Al Khattab?

Ternyata Kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika diri kita selalu nyaman baik dalam lapang dan senang maupun dalam kesusahan.
karena buah dari ibadahnya yang khusyu dan berkualitas.

Yang terpenting dalam hidup ini adalah respont spontan dalam segala kejadian baik atau buruk selalu di sikapi dengan akhlak mulia karena hatinya yang bersih dan pribadinya yang kuat dalam menghadapi persoalan hidup.

Bahagia itu bukan banyaknya tabungan di bank, Rumah mewah dan kendaraan bagus, atau laba untung dalam perniagaan.

Kita hidup dizaman yang serba ingin Penilaian manusia.

Apapun dilihat dari pribadi yang kuat dan hatinya yang baik. Dan Rasulullah Saw berjuang untuk menyempurnakan pribadi yang bersahaja

Ramadhan ini goalnya menjadi ahli ibadah yang berkarakter.

Kita di didik untuk banyak bangun malam (qiyamul lail). Baca Al-Qur’an dan ibadah lainnya.

Lalu apa yang terasa dalam diri ini?

Sedangkan orang yang ahli tahajud dan ahli al-Quran akan menjadi pribadi yang paling dekat dengan kebahagiaan karena hatinya selalu di didik melalui hubungan-Nya dengan Allah Swt di sepertiga malam yang penuh berkah.

Pribadi kuat dan baik bersumber dari hati yang bersih.

Ciri hati bersih adalah:
Nyaman dengan diri sendiri. Peka terhadap kesalahan juga amanah dan kewajiban

Bisa meraba perasaan orang, sehingga peduli dan tahu apa yang harus dilakukan

Puncaknya dicintai Allah, amal diterima, di dunia banyak pertolongan Allah Swt.

Ketika orang lain merasa aman dari lisan, tulisan & sikap buruk (tak merasa terganggu). Itulah ciri seseorang telah sampai keimanan dan keislamannya.

Ciri bahwa Allah Swt telah ridho pada seseorang adalah selalu berusaha bagaimana membuat orang lain bahagia karena Allah, bukan karena ingin disenangi orang, dengan konsep yang paling ringan senyum, salam sapa (membahagiakan, menghargai), sopan, santun (belajar mengalah).

Puncaknya pribadi penuh manfaat dan memberi apa yg bisa diberikan, banyak belajar & berlatih agar nilai manfaat semakin tinggi.