Menjadikan Diri Berjiwa Mukhlisin

Sungguh beruntung bagi siapa pun yang amalannya selamat dari tujuan lain selain Allah. Yakni, seorang hamba yang setiap amalannya diniatkan ikhlas karena Allah semata.

Ikhlas dapat bermakna bersih dari segala maksud-maksud pribadi. Bersih dari segala pamrih dan riya. Bersih dari segala yang tidak disukai Allah SWT. Ikhlas dalam menjadikan Allah sebagai Pencipta, Pemilik, Pemelihara, dan Penguasa alam semesta.

Ikhlas menjadikan Allah sebagai satu-satunya Zat yang kita harapkan, taati, cintai, dan kita takuti. Ikhlas menerima Muhammad sebagai Rasul, penyampai kalam Allah. Juga ikhlas menerima al-Quran sebagai pedoman dalam segala gerak kehidupan. Inilah jiwa mukhlisin.

Dalam jiwa mukhlisin, tertanam jiwa merdeka. Jiwa yang berkarakter kuat dan tidak pernah mengenal lelah. Gerak perilakunya tidak dipengaruhi oleh ada atau tidak adanya kedudukan atau penghargaan. Baginya yang terpenting adalah Allah rida kepadanya.

Orientasi hidupnya jelas dan tegas. Langkahnya pasti dan penuh harapan. Tidak ada frustasi dalam hidupnya. Tidak ada kata putus ada ada dalam usahanya. Ia merdeka karena hanya Allah yang menjadi tujuan hidupnya.

Selain itu, orang yang berjiwa mukhlisin bersungguh-sungguh menjaga keikhlasannya. Apa pun yang terjadi baginya, ia tidak rugi. Ia yakin ketika berkunjung kepada seseorang yang sakit, apakah yang dikunjunginya sembuh atau tidak, ada atau tidak ada, tidak menjadi masalah.

Begitu pun dengan usaha pasangan suami istri yang sama-sama ingin membahagiakan pasangannya. Walaupun kekecewaan yang didapat, tidak jadi masalah karena semua usahanya telah dicatat Allah sebagai amal ibadah. Dia tidak kecewa ketika sesuatu yang tidak diinginkan malah terjadi.

Hal lain dari orang yang ikhlas adalah putus harapan dari kerinduan untuk dihormati. Ia tidak berharap dipuji dan dihargai. Ia tetap semangat berbuat kebaikan saat dipuji ataupun dicaci. Jiwanya merdeka karena orientasi yang dituju hanya Allah SWT.

Demikian, semoga Allah yang Mahatahu lintasan hati kita, melindungi diri dari kerinduan dipuji, dihargai, dihormati, dibalasbudi oleh makhluk-makhluknya. Wallahu a’lam bishshawwab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *