(Edisi Idul Adha) Keteladanan Nabi Ismail

Nabi Ismail ‘Alaihissalam merupakan putra kandung Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dari istrinya yang bernama Siti Hajar. Salah satu sejarah yang bisa dilihat dari kisah Nabi Ismail adalah tentang awal mula mengalirnya air zam zam di kota Makkah, Arab Saudi, yang tidak pernah habis hingga sekarang.

Salah satu kisah fenomenal dari Nabi Islami ‘Alaihissalam yang mempunyai pesan mendalam dan penuh kebijaksanaan. Dalam kisahnya, Nabi Ismail beserta Ayahnya mengalami berbagai macam peristiwa yang besar dan mengharukan. Salah satunya peristiwa penyembelihan Nabi Ismail yang diperintahkan oleh Allah. Namun, sikap ketaqwaan yang begitu tinggi, Nabi Ismail menerima perintah tersebut.

Dimana suatu hari, Nabi Ibrahim bermimpi bahwa ia menyembelih putranya, Ismail. Setelah ia bangun, ia menyadari bahwa mimpi itu merupakan petunjuk dari Allah. Dimana peristiwa ini Allah abadikan dalam Al-Qur’an.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102).

Hal ini tentu saja membuat istri Nabi Ibrahim kaget karena anak yang telah dinanti selama puluhan tahun harus disembelih karena sebab mimpi. Tetapi setelah mendapatkan pemahaman dari sang suami dan anaknya akhirnya Siti Hajar pun bisa menerima dan memahami bahwa hal tersebut adalah perintah Allah Ta’ala.

Sebelum melakukan penyembelihan, Ismail dan Ibrahim berpelukan dengan penuh haru. Ibrahim pun memulai proses penyembelihan dengan menyebut nama Allah. Namun, pisau tajam yang digunakannya ternyata tak bisa menyembelih Ismail. Ismail pun meminta ayahnya untuk menyembelihnya tanpa melihat wajahnya. Namun, tetap saja pisau Ibrahim tak bisa menyembelih sang anak.

Namun saat itu Ibrahim mendengar seruan Allah, “Hai Ibrahim, kamu telah melaksanakan dan membenarkan mimpi itu dengan bersegera mentaatinya, begitu pula dengan anakmu. Sebagaimana Kami membalas ketaatanmu dengan mengeluarkanmu dari hal sulit ini dan menyelamatkan anakmu dari penyembelihan; Kami juga akan membalas dan menyelamatkan orang-orang baik dengan menyelamatkan mereka dari kesulitan di dunia dan di akhirat.” (QS. As-Saffat: 104 – 105).

Tidak lama setelah itu, malaikat Jibril membawa kambing besar dan meletakkannya sebagai pengganti Ismail yang akan disembelih. Dari peristiwa inilah kemudian turun perintah Allah bagi seluruh umat muslim untuk menunaikan kewajiban berkurban.

Nabi Ismail dan Ayahnya juga memperbaiki bangunan Ka’bah. Allah juga menunjukkan tempat dimana mereka bisa membangun Baitullah. Keduanya pun bekerja sama dan saling membantu meninggikan fondasi. Kisah ini pun diabadikan pada surah Al-Baqarah ayat 127,

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membangun) dasar-dasar Baitullah beserta Isma’il (seraya berdoa): ‘Ya Tuhan kami terimalah daripada (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

(Shabirin/Win)