“Temankukah Engkau di Akhirat?”

Selamat Hari Santri Nasional!

Terkhusus untuk Syal Ungu, uhibbukum fillah sabahat @ppm_daaruttauhiid.

Ini ada sedikit cerita untukmu, tentang teman seperjalanan.

Dalam langkah mengarungi ruang kehidupan, perlulah kutemui seseorang yang mampu aku jadikan teman seperjalanan yang dapat membersamaiku dalam setiap langkah kecil yang menguat setiap harinya.

Dia yang teguh dalam imannya. Dia yang indah dalam akhlaknya. Dia yang kuat dalam doanya. Dia yang menawan dalam tindaknya. Dia yang santun dalam bicaranya. Sedikit sekali kutemui lorong kesia-siaan dalam setiap derap langkahnya. Sebab nyata bahwa dia selalu mengedepankan takwa diatas segalanya.

Rumus yang kutau, setelah mencari kemudian pada akhirnya adalah pasti menemukan. Tapi rupanya tak sesederhana itu. Terlebih jika berbicara tentang mencari teman seperjalanan.

Bagiku, menyematkan bahagia adalah yang menjadi tuju atas setiap mimpi dalam pertemanan yang semoga kian termaknai dengan baik. Namun bahagia yang seperti apa? Pertemanan yang bagaimana? Tentu harus yang semakin membuat satu sama lain merasai lebih dekat dengan Allah, bukan?

Teman seperjalananku, rupanya perhatianmu, selalu mengalun merdu pada setiap ruang di hati. Kamu selalu punyai segenggam rasa dari segenap cinta yang penuh akan ketulusan yang kian terasai selama ini. Maka, jadilah kamu, teman seperjalananku yang melangkah bersama dengan berakhirkan surga Allah, insyaAllah.

Mari kita temukan tempat berpulang yang sesungguhnya, dengan bekal yang tidak seadanya. Sebab itulah aku perlukan; teman seperjalanan yang benar-benar mengerti bahwa Allah tidak hanya semata menciptakan kehidupan melainkan untuk benar menjadikan dunia sebagai ladang amal pencari pahala. Kita punya tempat pulang dan akan kesana, bukan?

Benar memang, bahwa tak pernah ada yang mudah dalam setiap menemukan teman seperjalanan. Kuingin banyak temukan teman yang bukan hanya pandai melukis hati, namun ia juga pandai dalam menata keadaan hati, yang tak pernah bosan dalam membuat gurat senyum disetiap wajah orang-orang di sekelilingnya. Teman yang bukan hanya sekedar menerka keadaan, tapi juga mampu menjumpai hati dengan berbahasa penuh kedamaian.

Lalu kemudian, jika berbicara tentang hijrah. Yang aku pahami, bahwa hijrah adalah hadiah terbaik dari Allah, tapi nyata kusadari bahwa lambat laun banyak teman yang semakin pergi. Namun aku selalu yakinkan pada diri, bahwa Allah sedang pilihkan teman yang mampu sama-sama perjuangkan surga, bukan yang hanya menginginkannya saja.

Sepanjang dan sejauh aku berpikir selama ini, akupun ingin menjadi teman seperjalanan yang kini sedang aku cari. Kemudian sedikit aku belajar, jangan hanya mencari, namun menjadilah demikian dengan damai dan penuh dengan kecintaan.

Maka, untuk siapapun kamu, sahabatku. Yang pernah aku ajak untuk bersama menjadi baik dan mendekat kepada Allah. Maafkan aku jika selama ini nyatanya kamu merasa risih dengan banyaknya bicaraku. Maafkan aku yang mungkin kamu sering menjadi merasa terpaksa atas segala ajak dariku. Tapi yang kutau tentang diriku. Ternyata tidak banyak yang aku inginkan.

Sering aku bertanya pada diri, ternyata alasannya adalah ketidakinginan aku dan kamu bertemu hanya di dunia saja. Banyaknya ocehanku padamu, tersebab aku ingin mengajakmu untuk terus memantaskan diri, hingga kelak aku dan kamu bisa bertemu kembali di surga Allah. Semoga kita saling bisa menanam rasa kenyamanan dalam keimanan.

Dan kembali lagi, teruntuk yang sedang aku cari dan mungkin telah kutemui, siapapun kamu yang masih membersamaiku saat ini, terimakasih banyak, sabarmu begitu memesona. Sebenarnya, begitu banyak alasan untuk bisa mengeluh, namun aku tak temukan itu dalam dirimu, justru sebaliknya, dengan alasan apapun kamu mampu untuk selalu tersenyum.

Alhamdulillah, selama ini banyak kutemui sahabat dengan beragam kesederhanaan yang menginspirasi. Lalu kemudian akupun tersadar bahwa ada masa dimana semua orang tak pernah ada yang tinggal menetap, selalu saja datang dan pergi. Namun aku percaya bahwa setiap kita punya ikatan perjanjian terkekal, tersebab adanya ukhuwah, yaitu janji untuk kelak saling mencari lagi disana, surga Allah.

Semoga Allah yang membuatmu mencintaiku, turut mencintaimu. Kemudian Allah jadikan kamu sebagai sebenar teman seperjalanan yang akan bertemu kembali nanti di surga Allah, aamiin.

 

Saudara dalam dekapan ukhuwah,

Aprilia Rahmanita

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *