Belajar dari Dakwah Nabi

Masjid Daarut Tauhiid (DT) beragam tema kajiannya. Ustaz dan ustazah yang memberikan kajian pun sangat memahami dan menarik didengarkan. Penyampain yang ringan merupakan salah satu cara agar jamaah betah mendengarkan kajian. Apalagi pesan dakwah disampaikan dengan hati (tulus) supaya jamaah dapat semakin bertambah keilmuannya.

Dalam sejarah Nabi Muhammad, menyampaikan pesan dakwah dengan hati atau penuh kasih sayang adalah salah cara agar umat memahami pesan dibawa oleh Nabi. Beliau berperilaku dan bersikap luhur meski harus mendapatkan perlakuan kasar dari para objek dakwahnya. Contoh saat terjadi peristiwa di Thaif, Rasulullah dilempari dengan batu oleh penduduk Tha’if hingga kakinya bersimbah darah.

Perbuatan mereka membuat Allah murka dan menawarkan kepada Nabi Muhammad lewat para malaikatnya agar dihancurkan. Namun akhlak mulia dan jiwa simpatiknya, Rasulullah justru berdoa, “Ya Allah, anugerahkanlah hidayah kepada kaumku; sesungguhnya mereka tidak tahu.” Kata-kata bersejarah ini menunjukkan betapa mulianya hati Rasulullah dalam berdakwah.

Hikmah yang Bisa Dipetik

Pertama, Allah menjelaskan kepada Rasul-Nya bahwa sesungguhnya dakwah ini adalah dakwah untuk agama Allah sebagai jalan menuju rida-Nya, bukan dakwah untuk pribadi. Rasulullah diperintahkan membawa manusia ke jalan Allah dan untuk agama Allah semata.

Kedua, Allah menjelaskan kepada Rasul-Nya agar berdakwah dengan hikmah. Arti hikmah ialah pengetahuan tentang rahasia dan faedah sesuatu, yakni pengetahuan itu memberi manfaat. Dakwah dengan hikmah adalah dakwah dengan ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan rahasia, faedah, dan maksud dari wahyu ilahi dengan cara yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi agar mudah dipahami umat.

Ketiga, Allah menjelaskan kepada Rasul-Nya agar dakwah itu dijalankan dengan pengajaran yang baik, lemah lembut, dan menyejukkan sehingga dapat diterima dengan baik. Tidak patut jika pengajaran dan pengajian selalu menimbulkan rasa gelisah, cemas, dan ketakutan dalam jiwa manusia.

Orang yang melakukan perbuatan dosa karena kebodohan atau ketidaktahuan, tidak etis jika kesalahannya itu dipaparkan secara terbuka di hadapan orang lain sehingga menyakitkan hatinya. Khutbah atau pengajian yang disampaikan dengan bahasa lemah lembut, sangat baik untuk melembutkan hati yang keras dan lebih banyak memberikan ketenteraman daripada khutbah dan pengajian yang isinya ancaman dan kutukan-kutukan mengerikan.

Namun demikian, menyampaikan peringatan dan ancaman dibolehkan jika kondisinya memungkinkan dan diperlukan. Untuk menghindari kebosanan dalam pengajiannya, Rasulullah menyisipkan dan mengolah bahan pengajian yang menyenangkan dengan bahan yang menimbulkan rasa takut.

Dengan demikian, tidak terjadi kebosanan karena uraian pengajian yang berisi perintah dan larangan, dipadukan dengan bahan pengajian yang melapangkan dada atau merangsang hati untuk melakukan ketaatan dan menjauhi larangan.

Keempat, Allah menjelaskan bahwa jika terjadi perdebatan dengan kaum musyrikin atau pun ahli kitab, hendaknya Rasulullah membantah mereka dengan cara yang baik. Perdebatan yang baik ialah perdebatan yang dapat menghambat timbulnya sifat negatif manusia, seperti sombong, tinggi hati, dan berusaha mempertahankan harga diri karena sifat-sifat tersebut sangat tercela.

Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Islam mengajarkan kelembutan hati dan kasih sayang pada seluruh makhluk ciptaan Allah. Setelah dakwah dengan hati, penuh cinta kasih dan kelembutan sudah tidak efektif, justru Islam diserang, maka alternatif terakhir adalah mempertahankan diri dengan jihad. (Eko)

ket: ilustrasi foto diambil saat sebelum pandemi

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *