Pendidikan Islam Masa Khulafa al-Rasyidin

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, kondisi politik dalam negeri cenderung stabil. Khalifah Umar melanjutkan usaha-usaha yang telah dirintis Rasulullah dan Khalifah Abu Bakar, terutama melakukan ekspansi atau penyebarluasan wilayah Islam. Ekspansi yang terjadi pada masa Khalifah Umar mencapai hasil yang gemilang. Satu persatu wilayah-wilayah yang dulunya merupakan jajahan kerajaan Romawi dan Persia jatuh ke tangan umat Islam. Daerah-daerah tersebut meliputi Semenanjung Arabia, Palestina, Syria, Irak, Persia, dan Mesir.

Dengan meluasnya wilayah Islam sampai ke luar Jazirah Arabia, pemimpin mulai memikirkan pendidikan Islam di daerah-daerah luar Jazirah Arabia karena bangsa-bangsa tersebut memilki adat dan kebudayaan yang berbeda dengan Islam. Untuk itu, Khalifah Umar memerintahkan panglima-panglima apabila mereka berhasil menguasai suatu kota, hendaknya mereka mendirikan masjid sebagai tempat ibadah dan pendidikan. Berkaitan dengan usaha pendidikan Islam itu, Khalifah Umar mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk tiap daerah yang ditaklukkan. Mereka bertugas mengajarkan isi al-Quran dan ajaran Islam kepada penduduk yang baru masuk Islam.

Penyebaran Pusat Pendidikan

Karena negara Islam sudah menyebar luas ke luar Jazirah Arabia, maka pusat pendidikan Islam bukan di Madinah saja. Pusat itu tersebar juga di kota-kota besar sebagai berikut, Kota Mekah dan Madinah (Hijaz), Kota Basrah dan Kufah (Iraq), Kota Damsyik dan Palestina (Syria), dan Kota Fustat (Mesir).

Rasulullah semasa hidupnya telah menggariskan dasar-dasar utama pendidikan Islam, dan telah menghasilkan insan-insan berpendidikan yakni para sahabatnya yang mendapat kepercayaan memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin. Hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan pada masa Nabi itu benar-benar ampuh. Mereka, para sahabat sanggup dan berhasil melalui segala rintangan dan cobaan.

Dalam sejarah, mereka tercatat sebagai guru-guru besar dunia. Setiap ujian dilalui dengan sukses besar, karena mereka berpegang dengan al-Quran dan Sunnah sebagai sumbu utama ideologi Islam. Masa Khulafa al-Rasyidin adalah masa perjuangan besar, pertarungan antara yang hak dan yang batil, pertarungan antara yang asli dan yang palsu. Kebatilan pada waktu itu tidak sama dengan kebatilan pada masa Rasulullah saw.

Tantangan Para Khalifah

Pada masa Khulafa al-Rasyidin kebatilan datang dalam bentuk yang bermacam; kepala-kepala suku Arab sekitar Mekah yang mulai memberontak, orang-orang yang berambisi menjadi pemimpin, tantangan untuk menghadapi raja-raja Persia, raja-raja atau bangsawan Romawi dan sebagainya. Semua itu membawa akibat yang sama yaitu kebatilan.

Sahabat-sahabat Rasulullah pada masa ini mengalami perjuangan seperti yang mereka hadapi pada masa Rasulullah, tetapi dalam bentuknya tersendiri. Mereka berpencar ke seluruh penjuru negeri mengajarkan apa yang mereka pelajari dari Rasulullah pada waktu dulu. Pada masa Khulafa al-Rasyidin ini, kaum muslimin telah mengadakan kontak langsung dengan negeri-negeri taklukan yang mempunyai peradaban berbeda satu sama lainnya.

Untuk menyebarkan dakwah islamiyah diperlukan kemahiran berbahasa. Oleh karena itu, pendidikan dalam ilmu bahasa atau lisaniyah ini sudah mulai dirintis pada masa Khulafa al-Rasyidin. Sarana-sarana pendidikan yang berbentuk halaqah telah tumbuh dengan baik. Menurut sebagian riwayat bahwa kuttab sebagai lembaga pendidikan untuk mengajarkan membaca al-Quran dan pokok-pokok agama Islam telah tumbuh pada masa Khulafa al-Rasyidin.* (Gian)

*disunting dari Pendidikan Islam pada Masa Khulafa Al-Rasyidin dan Bani Umayyah oleh Choirun Niswa

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *