Membangun Spirit Dakwah Melalui Perdagangan

Pasca kedatangan Islam, perkembangan perdagangan makin maju. Banyak pedagang Muslim yang sukses dan memiliki banyak kafilah dagang. Apalagi, dalam ajaran Islam berdagang merupakan pekerjaan yang utama. Di antara hadits yang memotivasi untuk berdagang adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَطْيَبُ الْكَسْبِ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

“Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seorang pria dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Ahmad, Al Bazzar, Ath Thobroni dan selainnya, dari Ibnu ‘Umar, Rofi’ bin Khudaij, Abu Burdah bin Niyar dan selainnya).

Juga dalalm hadits lain disampaikan yang berkaitan dengan perdagangan,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang.” (Muttafaqun ‘alaih).

Alhasil, banyak sahabat Nabi yang berprofesi sebagai pedagang. Makin meluas wilayah kekuasaan Islam, makin berkembang ranah perdagangan Muslimin. Perkembangan pesat terlihat di era Abbasiyah. Jika sebelumnya perdagangan masih dikuasai penganut Kristen, Yahudi, dan Zoroaster, pada era Abbasiyah mereka digantikan para pedagang Muslim.

Philip K Hitti menuturkan, pada era tersebut para pedagang Muslim di bagian Timur telah menjelajah hingga Cina. Penjelajahan tersebut dimulai sejak khalifah kedua Dinasti Abbasiyyah, Al Manshur, dan sutralah yang menjadi komoditas perdagangan tersebut. “Sumber Arab paling awal yang menyinggung tentang hubungan maritim Arab dan Persia dengan India dan Cina berasal dari laporan perjalanan Sulayman Al Tajir dan para pedagang Muslim lainnya pada abad ketiga Hijriah,” kata Hitti.

Sementara, di bagian Barat pedagang Muslim era Abbasiyah telah mencapai Maroko dan Spanyol. Laut Kaspia menjadi titik pertemuan dagang favorit. Para pedagang Muslim membawa kurma, gula, kapas dan kain wol, serta peralatan baja dan gelas. Mereka mengimpor barang dagangan, seperti rempah-rempah dan sutra dari Asia serta mengimpor gading dan kayu eboni dari Afrika. Bahkan, menurut Hitti, 1.000 tahun sebelum de Lesseps, khalifah Harun telah lebih dulu mengemukakan gagasan penggalian kanal di sepanjang Istsmus di Suez.

Kala itu, pedagang merupakan seorang yang kaya raya. Di Siraf, misalnya, rumah seorang pedagang bisa bernilai lebih dari 10 ribu dinar. Bahkan, terdapat saudagar maritim yang rumahnya senilai empat juta dinar. Aktivitas perdagangan kala itu memang amat ramai.

Saat ini kita umat Islam bisa mengambil kembali spirit para pendahulu kita yang banyak melaksanakan kegiatan berdagang. Selain sebagai sarana mendapatkan keuntungan, dengan berdagang juga bisa menjadi sarana kita untuk menyebarkan Islam lebih luas lagi. Dan ini juga sebagai bukti bahwa seorang Muslim akan lebih mudah menyebarkan Islam jika menjadi saudagar yang kaya raya. Karena dengan kekayaannya ia mampu membuka lapangan kerja yang luas dan mampu mendanai kegiatan-kegiatan Islam. Wallahu a’lam bishowab

(Wahid)

 

Referensi:  Islam Digest Republika

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *